Resensi Novel The Boy Who Gave His Heart Away

Resensi Novel The Boy Who Gave His Heart Away

Diambil dari kisah nyata, novel ini benar-benar syarat akan makna. Kasih sayang orangtua, kesabaran, keikhlasan dan kemanusiaan, merupakan beberapa bagian yang bisa kita petik melalui kisah ini. Selain itu novel ini merupakan pemenang “New York Festival Wordl’s Best Radion Award” kategori Penulisan, Medis dan Isu sosial.
Orang tua mana yang tidak sedih, ketika mendapati kenyataan bahwa putranya tengah berada diambang kematian? Inilah kisah Marc dan Martin serta Linda dan Sue. Mereka tidak tinggal berada pada muara yang sama. Tempat tinggal mereka terpisah jarak beberapa ratus mil. Dari Scotlandia hingga Inggris. Namun ternyata takdir telah mendekatkan mereka dengan salah satu organ tubuh mereka.
Marc awalnya adalah pemuda berusia 15 tahun yang sangat sehat dan bugar. Dia sangat mecintai sepak bola, serta salah satu pemain bintang dalam tim sepakbola di setempat. Namun suatu hari mendadak dia ditemukan dalam keadaan tidak sehat dan divonis mengalami gagal hati. Tidak hanya itu organ-organ tubuh yang lain juga mengalami gangguan. Oleh karena itu, Marc harus dirujuk ke Royal Infirmary of Edinburgh (hal 8). Kenyataan itu tentu saja membuat Linda limbung.
Dijelaskan bahwa, Jantung Marc tidak sehat dan bengkak, serta hanya bisa bersenyut lemah hingga darahnya tidak bersirkulasi secara normal. Organ-organ tubuhnya kekurangan oksigen yang dibutuhkan sehingga mengalami kondisi gagal organ—hatinya mengering, kedua paru-parunya kondisi banyak darah. Marc benar-benar kritis (hal 17-18). Dan salah satu cara agar bisa menyelematkan Marc adalah dengan transaplantasi jantung. Hanya saja kadang sangat sulit menemukan donor yang cocok.
Di sisi lain, tiga ratus mil ke selatan, Martin yang juga sama-sama penikmat sepak bola, terlihat bugar dan menikmati masa rejamanya dengan wajar. Akan tetapi pada suatu malam dia ditemukan tidak sadarkan diri, dan membuat ibunya, Sue kalang kabur. Di mana disinyalir Martin mengalami pendarahan di otaknya, hingga harus dibawa ke Nottingham, untuk menemui dokter spesialis (hal 35).
Di mana setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter yang menangani Martin—Harish Vyas menjelaskan, “Hasil dari semua tes yang digabungkan bersamaan menunjukkan bawa batang otaknya telah berhenti berfungsi secara efektif. Dengan kata lain, Martin sudah mati otak.” (hal 73). Dalam hukum Amerika jika semua fungsi otak sudah berhenti, maka seseorang dianggap sudah meninggal. Begitu juga di Inggris. Lalu keluar korban memiliki dua pilihan, mendonorkan organ tubuh untuk menolong orang lain atau tidak.
Hal itu juga yang berlaku bagi Sue. Di saat dia harus mengalami kesedihan karena harus menerima kematian anaknya yang sangat mendadak, dia harus berpikir jernih demi kemanusian—dalam artian peduli dengan pasien lain yang mungkin membutuhkan donor tubuh dari anaknya. Dan ternyata Marc adalah satu dari sekian orang yang menunggu donor dari Martin.
Kisah ini sangat menggetarkan hati. Penulis berhasil menghidupkan kisah ini hingga seperti melihat secara nyata bagaimana kehidupan yang dialami Marc dan Linda, serta Martin dan Sue. Pilihan sudut pandang yang diambil penulis juga menjadi nilai tambah tersendiri dalam kisah ini. Sudut pandang orang ketiga bergantian masing-masing tokoh di sini, membuat kita mengenal masing-masing tokoh lebih dekat.
Dalam novel ini saya dapat merasakan kesedihan, kebingungan, keputusasaan seorang ibu. di sisi lain saya juga dapat merasakan kesabaran dan keikhlasan yang harus mereka terima ketika melihat keadaan putra masing-masing. Ini benar-benar kisah yang penuh haru. Belum lagi ketika takdir ternyata membuka peluang untuk saling bertemu dan berkenalan. Ini adalah momen yang sangat jarang terjadi antara pendonor dan penerima donor.
Sedikit kesalahan tulis dalam novel ini tidak mengurangi keseruan cerita. Membaca kisah ini saya belajar tentang pentingnya usaha dan doa dalam setiap situasi. Selain itu kita diajak menjadi pribadi yang selalu ikhlas, sabar dan syukur. Tidak ketinggalan adalah sikap saling tolong menolong dan peduli pada sesama.

Srobyong, 7 September 2018
Padang Ekspres, Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Resensi Novel Kembara Rindu

April 24, 2020

Resensi Buku Lembaga Budi

April 24, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *