Garuda Gaganeswara, Verse Novel untuk Anak Indonesia

Garuda Gaganeswara, Verse Novel untuk Anak Indonesia

Verse novel terasa asing di Indonesia. Tidak banyak penulis Indonesia yang menerbitkannya. Di dunia telah muncul sejak abad ke-19. Dan, verse novel pertama untuk anak terbit pada 1997 oleh Karren Hesse, Out of the Dust.

Sempat merasa gamang, karena sulitnya menemukan verse novel untuk anak dari penulis Indonesia, Ary Nilandari, salah satu penulis produktif yang dimiliki Indonesia, akhir tahun lalu, tepatnya bulan November, meluncurkan verse novel untuk anak, Garuda Gaganeswara (GG). “Rasanya seperti menapaki jalan yang tidak banyak dilalui orang tanpa peta di tangan. Bagaimanapun, menulis verse novel tidak seperti menulis puisi, tidak juga sepenuhnya sama seperti menulis novel,” aku Ary dalam prakata di buku GG.
Apa itu verse novel?
Verse novel merupakan irisan antara novel dan puisi. “Tulisannya mengandung semua unsur fiksi dan disampaikan dalam format puisi,” jelas Ary dalam acara Bincang Buku Online saat peluncuran buku GG. Bentuknya mirip dengan prosa liris dan puisi naratif. Lebih tepatnya, “rangkaian puisi naratif yang membentuk novel.” Dalam bahasa Indonesia verse novel bisa diterjemahkan sebagai novel bait atau novel sajak.

Selain karena jatuh cinta terhadap verse novel, Ary berkeinginan hadirnya verse novel untuk anak bisa menjadi bacaan transisi bagi anak dari ficture book, yang dominan gambar sedikit teks, menuju ke komik lalu ke buku umum. “Transisi dari buku anak ke komik, teks yang banyak tanpa menakutkan. Sekali duduk. Satu jam sudah selesai baca buku,” jelas penulis buku Pudar, verse novel untuk remaja.
Terkait dengan buku GG, Ary menjelaskan bahwa sebelum diserahkan ke penerbit, drafnya diberikan terlebih dahulu kepada delapan anak sebagai pembaca pertama. Kedelapannya memberikan respon positif, baik terhadap konten maupun formatnya.
Ary mengakui bahwa verse novel relatif baru di Indonesia. Bagi yang biasa membaca novel akan canggung dengan formatnya. Sebaliknya, bagi penikmat puisi akan bingung dengan kontennya. Dari pengalamannya menulis Pudar dan GG, Ary menyampaikan bahwa menulis verse novel itu penuh resiko, tapi mengasyikkan.
Membacanya juga tentu mengasyikkan pula. Tidak percaya??? Temukan keasyikkannya di Garuda Gaganeswara.

Resensi Buku Putik Safron di Sayap Izrail

Januari 18, 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *