Resensi Buku Lembaga Budi

Resensi Buku Lembaga Budi

Secara gamblang, akhlak adalah prilaku yang timbul dari dalam diri seseorang tanpa dipaksa sehingga menjadi kebiasaan dan karakter dirinya dalam bersikap dan bertindak—yang pada akhirnya—orang tersebut bisa berinteraksi dengan baik sesama makhluk lainnya. Berprilaku baik dalam setiap keadaan dan kondisi apapun tentu saja tidak mudah jika tidak dilatih dengan tekun. Selaras dengan pribahasa orang Madura, “mun la deddi bebetek, maso’ ka otek, ta’ kera bisa kenning othek (kalau sudah menjadi watak, masuk ke otak, tidak akan bisa diotak atik lagi)”.

Salah satu permasalahan manusia yang cukup krusial hingga zaman milenial adalah budi pekerti. Indonesia sebagai negara yang mengedepankan nilai-nilai keluhuran harus memupuk sikap budi pekerti yang baik antar sesama. Etika yang baik adalah “estetika” dalam menjalani kehidupan setiap hari karena seseorang akan dipandang oleh orang lain sebab budi pekertinya yang santun sehingga orang akan menjadi manusia yang bernilai di hadapan tuhan lebih-lebih di hadapan sesama. Budi pekerti yang diamalkan dalam segala aspek kehidupan bisa menjadikan manusia selalu dihargai oleh lawan maupun kawan.

Prof. Dr. Hamka di buku ini ingin menjelaskan bahwa budi pekerti adalah tolok ukur mencapai derajat kemuliaaan di hadapan manusia dan tuhannya. Hamka dalam buku ini ingin memberikan sebuah sinyal bahwa budi pekerti merupakan salah satu kunci dalam menyemai peradaban bangsa bisa bersahaja. Hal tersebut bisa kita saksikan dari pantun yang disajikan dalam pengantar buku ini, “tegak rumah karena sendi, runtuh sendi rumah binasa, sendi bangsa ialah budi, runtuhlah budi runtuhlah bangsa”. Pantun tersebut dijustifikasi dengan pantun lain dalam buku ini seperti,“diribut runduklah padi, dicupak datuk temanggung, hidup kalau tidak berbudi, duduk tegak ke mari canggung” (hlm. 04). Karenanya, manusia yang tidak menggunakan budi pekertinya akan selalu merasa canggung di hadapan siapa pun.

Salah satu cara agar budi pekerti menjadi baik adalah dengan mengendalikan tiga komponen (hati nurani, akal, dan nafsu) dalam diri manusia. Selayaknya manusia harus bisa menyeimbangkan ketiga komponen tersebut. “keselamatan rohani dan jasmani kita hanyalah tercapai kalau nafsu itu terkendali oleh akal (hlm. 22)”. Ketiga komponen tersebut menjadi sebuah dimensi yang musti selalu diasah dan diperbaiki oleh manusia lebih-lebih harus disikapi secara dewasa.

Berawal dari ketiga komponen tersebut, manusia akan menimbulkan cara dan sikap dalam bertindak yang tanpa sadar akan membentuk kepribadiannya. Untuk itulah, dalam buku ini ditegaskan, “ketahuilah bahwasanya timbulnya suatu akhlak atau perangai, sangatlah rapat hubungannya dengan beberapa unsur yang terpendam dalam diri kita sendiri sebagai manusia (hlm. 40)”

Oleh sebab itu, Prof. Dr. Hamka memberikan sebuah solusi dalam buku ini dengan mengemukakan pendapat imam Ghazali bahwa mulanya jiwa seorang manusia masih serba kekurangan, lalu diajar dan dididik dengan didikan budi pekerti dan diberi makanan dengan ilmu pengetahuan (hlm. 46). Buku ini juga memaparkan tentang budi pekerti dalam segala aspek kehidupan manusia seperti budi mulia orang yang memegang pemerintahan, imam yang adil, orang yang membuka perusahaan, para pedagang, para pekerja, para pengarang atau penulis, dokter, dan bahkan budi seorang guru sehingga buku ini menjadi kekayaan dalam memperbaiki sikap kita menjalani berbagai profesi dalam berbagai bidang tersebut.

Salah satu nilai dan pesan moral yang disampaikan dalam buku ini bahwa guru yang dikatakan sukses dalam pekerjaannya dan mendidik muridnya mencapai kemajuan adalah guru yang tidak hanya mencukupkan ilmunya dari sekolah guru saja, tetapi diperluasnya pengalaman dan bacaan (hlm. 115). Melalui beberapa aspek kehidupan yang disentuh dalam buku ini seakan ingin mengajak kita terbiasa dalam melembagakan budi. Budi menjadi urgen karena dimana pun dan kapanpun jika dilaksanakan kepada berbagai aspek kehidupan akan menjadi bernilai dan akan menjelma bangunan yang kokoh di tengah-tengah kehidupan masyarakat serba kebobrokan moral.

Radar Madura, Abdul. Warits, Mahasiswa Instika Guluk-Guluk Sumenep.

Resensi Novel The Boy Who Gave His Heart Away

April 24, 2020

Backstory dan Citra Tokoh dalam Fiksi

April 24, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *