Resensi Novel Kembara Rindu

Resensi Novel Kembara Rindu

“Anak panah kalau tidak dilepas dari busurnya, tidak akan pernah sampai sasarannya. Demikian juga manusia, jika tidak berani merantau untuk mencari ilmu maka dia tidak akan meraih kegemilangannya.” (hal 66).

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Salah satu tempat yang bisa kita sambangi dalam upaya menuntut ilmu adalah pesantren. Karena pendidikan di pesantren sedikit banyak akan membangun anak-anak bangsa yang berkualitas—selain dibekali dengan ilmu-ilmu keagamaan, dalam dunia pesantren kita juga akan mendapat pendidikan moral dan akhlak yang baik. Di mana dengan belajar di pesantren kita bisa tumbuh sebagai seseorang yang disiplin, bertanggung jawab dan banyak lagi.

Mengambil tema tentang keutamaan menuntut ilmu yang diramu dengan berbagai masalah pelik dalam kehidupan sehari-hari, buku terbaru karya Habiburrahman El Shirazy ini cukup menarik untuk kita baca. Sedikit banyak kisah ini akan mengingatkan kita tentang keutamaan merantau, mengunduh ilmu dari tempat jauh untuk belajar arti rindu dari orang-orang terkasih. Dalam salah satu syair dalam kitab “Alala Tanalul Ilmu …” dijelaskan, “Pergilah kalian dari desa untuk mencari kemuliaan, karena dari perjalanan atau merantau kita bisa menemukan lima perkara; menghilangkan kesusahan, menambah rezeki, menambah ilmu, memperbaiki akhlak dan mendapat teman-teman yang baik.”

Ridho, setelah sekian lama nyanti menjadi khadim (asisten) dari Kyai Nawir di pesantren di Sidawangi, Cirebon, kini bersiap pulang ke Way Meranti, Liwa, Lampung. Meski sedih karena harus diperintahkan pulang, Ridho tidak bisa protes. Apalagi dengan sifatnya yang begitu tawadu’ dan samikna wa atokna kepada sang guru. Apapun perintah Kyai Nawir, Ridho akan melakukannya dengan ikhlas. Termasuk mengawal Diana, putri bungsu Kyai Nawir yang akan melanjutkan sekolah di Bandar Lampung.

Di sisi lain Syifa sendiri sebenarnya tengah menanti kepulangan Ridho, kakak sepupunya tersebut. Berbagai keadaan yang tidak terduga, membuat gadis remaja itu nekat mengirim surat kepada kakak sepupunya agar segera pulang. Padahal Kakek Jirun pernah berpesan bahwa Ridho baru boleh pulang jika sudah diperintahkan oleh Kyai Nawir.

Sebagai pembuka dari novel dwilog, seri pertama ini sudah membuka lapisan-lapisan masalah yang akan menjadi bumbu menarik dalam rangkaian jalinan cerita. Dari bumbu-bumbu beraroma cinta, luka di masa lalu, kesalahpahaman hingga tentang warisan. Semua dikemas dengan apik dan rapi, yang pastinya akan membuat pembaca penasaran. Misalnya tentang kisah masa lalu Syifa yang ternyata memiliki benang merah dengan keluarga Lina, perjuangan syifa dalam mengejar ketertinggalannya karena sempat putus sekolah atau upaya Ridho dalam menjaga keluarga kecilnya.

Membaca novel ini selain kita bisa menikmati sentuhan cerita yang mengharukan dan menarik, melalui kisah ini kita bisa menemukan banyak selai nilai-nilai pembelaran dalam hidup. Misalnya bagaimana upaya dan kerja keras yang terus dilakukan Ridho dan Syifa yang harus bekerja keras untuk mengais rezeki dengan kelangsungan hidup mereka. Kisah mereka mengajarkan banyak hal, dari pentingnya menuntut ilmu, menghormati ulama, selalu bersikap jujur, serta tidak mudah putus asa dari rahmat Allah.

“Jangan pernah putus asa dari rahmah Allah! Jaga adab dan sopan santunmu kepada Allah! Adapun kepada sesama, jaga terus sikap rendah hati. Jangan pernah tinggi hati. Kalau kau nanti dijahati orang, jangan membalasa. Biarlah Allah yang menangani.” (hal 215).

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik. Hanya saja, sangat disayangkan, novel yang ditulis penulis sekelas Kang Abik dan diterbitkan di salah satu penerbit besar di Indonesia, masih saja ditemukan beberapa kesalahan tulis. Kemudian pada beberapa bagian saya merasa novel ini terasa monoton. Namun lepas dari kekurangannya saya selalu menikmati untaian hikmah yang diseliptkan Kang Abik dari novel-novelnya. Sejuk dan menggugah jiwa.

Di antaranya adalah anjuran untuk memiliki integritas tinggi ketika ingin meraih kesuksesan, serta keutamaan bersedekah.“Percayalah, kalau bersedekah saja besar pahalanya, dan tidak berkurang harta yang disedekahkan, maka kerelaan melepas harta untuk dibagi secara adil secara hukum waris syariat Allah, pahalanya lebih besar dari bersedekah.” (hal 227).

Srobyong, 1 November 2019
Kabar Madura, Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara

Pemerintah Didesak Perhatikan Dampak Covid-19 Terhadap Dunia Perbukuan

April 24, 2020

Resensi Novel The Boy Who Gave His Heart Away

April 24, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *