Resensi Novel Penakluk Badai

Resensi Novel Penakluk Badai

Tidak banyak yang mengetahui alur kehidupan Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dengan detail. Masyarakat kebanyakan mengenalnya sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan sutradara lahirnya Resolusi Jihad untuk melawan Belanda. Hadirnya novel biografi ini akan mendekatkan kembali masyarakat kepada Kiai Hasyim. Novel ini membawa pembaca untuk mengarungi kembali masa-masa sulit di tanah Jawa menjelang ditutupnya abad ke-19. Kita juga akan diajak menyelami hijaunya desa, militansi santri, ukhuwah para aktivis kebangsaan hingga kearifan para kiai.

Kebesaran nama KH Hasyim Asy’ari sudah dirasakan oleh ibundanya. Pada sepotong malam, Halimah bermimpi tidak biasa. Bulan purnama yang disaksikan bersama dengan suaminya, Asy’ari mendadak jatuh dari langit. Bulan itu tepat menimpa perutnya. Beberapa bulan dari mimpinya, Halimah mengandung. Sosok janin yang akan menjadi kiai unggul, tokoh pergerakan kaum santri dan pendiri organisasi massa Islam terbesar di negeri ini akan lahir. Tepat pada 14 Februari 1871 Masehi atau 24 Dzulqa’dah 1287 Hijriyah, Muhammad Hasyim bin Asy’ari dilahirkan ke dunia.

Hasyim kecil tumbuh di lingkungan pesantren. Sejak balita, dia terbiasa mendengar para santri Pesantren Gedang yang menghafal ayat-ayat Alquran. Ketika mulai duduk, dia timang kakeknya yang sedang membacakan kitab Ihya Ulumuddin setiap ba’da Subuh. Dia pun kerap diajak untuk shalat berjamaah saat ayahnya menjadi imam.

Beranjak remaja, Hasyim pun dikirim ayahnya untuk belajar ke Semarang yakni ke tempat KH Sholeh Darat. Seorang ulama tersohor yang merupakan sahabat Kiai Asy’ari saat belajar di Demak dahulu. Di Semarang, Hasyim berteman dengan seorang santri bernama Muhammad Darwis yang kelak dikenal orang sebagai KH Ahmad Dahlan. Kedua santri itu dinilai istimewa dengan karakter berbeda oleh KH Sholeh Darat. Hasyim sangat cekatan dan lebih banyak bersuara. Sementara Darwis pendiam dan lebih tenang. Dalam soal pelajaran, kedua sahabat itu sama-sama bisa menyerap ilmu dengan amat baik.

Setelah kembali menuntut ilmu ke Tanah Suci, Hasyim mendirikan pesantren di daerah yang dikenal serbahitam. Daerah itu dikenal dengan nama Tebu Ireng. Hasyim memiliki prinsip jika pesantren bukan sekadar tempat mempelajari ilmu-ilmu agama dan tempat ritual personal. Dia ingin pesan agama dari pesantren bisa hinggap di tengah masyarakat. Pesantren justru harus didirikan di tengah kawasan yang masyarakatnya punya akhlak terburuk.

Penulis juga mengajak kita menyelami pergerakan Kiai Hasyim dalam melawan penjajah. Uniknya, militansi Kiai Hasyim tidak selamanya dengan otot dan senjata. Dia bahkan menngajarkan santrinya bahasa Belanda untuk mengetahui dan mengcounter semua isu negatif kolonial kepada kaum santri. Kiai Hasyim juga menambahkan ilmu sejarah agar santrinya memahami perjuangan bangsa-bangsa di dunia.

Kiai Hasyim juga bisa berkompromi dan bekerjasama dengan temannya semasa muda, Kiai Dahlan, manakala ada beberapa santrinya yang masuk ke dalam persyarikatan tersebut. Tak hanya itu, Kiai Hasyim juga bisa berkompromi dengan tokoh-tokoh sosialis dan komunis seperti Tan Malaka dan Semaun sejauh itu masih dalam tujuan merebut kemerdekaan.

Dalam hal pendirian Nahdlatul Ulama, penulis mengajak pembaca untuk menyaksikan kembali dinamika pendirian ormas tersebut. Bermula dari saran beberapa kiai muda agar dibentuk jam’iyah ulama yang lebih besar, Kiai Hasyim memilih untuk bertafakur terlebih dahulu. Pada awal 1925, tersiar kabar jika Arab Saudi hendak mengadakan musyawarah akbar bertajuk Muktamar Khalifah untuk mengangkat Raja Saudi Ibnu Sa’ud sebagai Khilafah Islamiyah. Tidak mendapat dukungan, ide itu berganti menjadi Muktamar Islamiyah. Raja ketika itu berkehendak agar umat Islam di seluruh dunia bermazhab Wahabi. Raja beralasan butuh pemurnian ajaran atau syariat Islam demi kemajuan Islam.

Umat Islam di Nusantara mendengar berita tersebut. Ada yang mendukung ada juga yang menolak. Pesantren Salafi jelas-jelas menolak ide itu. Singkat cerita, mereka pun membentuk Komite Merembuk Hijaz meski Kiai Hasyim khawatir itu akan menyulitkan persatuan umat Islam. Namun, setelah beristikharah dan mendapat petunjuk dari Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim akhirnya merestui bahkan mendorong berdirinya Jami’yah Ulama tersebut. Mereka lantas mengundang ulama-ulama berpengaruh di Jawa. Setelah berembuk cukup lama, mereka pun mengganti nama Komite Merembuk Hijaz menjadi Komite Hijaz. Lantas, pada 31 Januari 1926, komite itu berubah menjadi Nahdlatul Ulama.

Editor: A Syalaby Ichsan, Harian Republika

Resensi Buku Fikih Muamalah Kontemporer

Mei 5, 2020

Resensi Buku Fatimah

Mei 5, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *