Resensi Buku Fatimah

Resensi Buku Fatimah

Fatimah merupakan putri bungsu kecintaan ayahnya. Akhlaknya di dunia yang merupakan binaan langsung dari madrasah Rasulullah amat cemerlang. Fatimah bahkan disebut memiliki keistimewaan daripada para istri Nabi sekalipun. Dia pun menjadi salah satu wanita yang kelak akan menjadi pemimpin wanita paling utama di surga, selain ibunya, Khadijah al-Kubra, Maryam binti Imran (ibunda Nabi Isa AS), dan Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun).

Berkat keistimewaan ini, Ali bin Abi Thalib sebagai suaminya tidak diizinkan untuk menikah dengan perempuan lain selama Fatimah hidup. Ayahandanya amat menyayanginya. Dia akan terluka jika Fatimah terluka, sekaligus murka ketika bungsunya itu murka. Larangan kepada Ali untuk menikah lagi pun merupakan bentuk penghormatan Rasulullah sehingga tidak ada sesuatu pun yang menyakiti hatinya.

Buku yang disusun dengan alur kronologis ini mengetengahkan kisah hidup singkat Fatimah sejak lahir, masa kecilnya bersama keluarga yang bahagia, kesendirian Fatimah, pernikahannya dengan Ali, hingga wafatnya. Penulis mengisahkan jika Fatimah sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri ketika usianya masih belum genap lima tahun. Fatimah pun sering keluar menemani ayahnya mengelilingi sudut Makkah.

Saat ayahnya menjadi Rasul, Fatimah menjadi pembelanya. Satu ketika, Fatimah menyertai ayah nya menuju Ka’bah untuk mencium salah satu ru kunnya. Kaum musyrikin melihatnya dan mem ben tak Muhammad. Mereka bahkan hendak me ninju wajah Rasulullah. Di lain hari, Fatimah juga mendapati seorang Quraisy yang membawa se onggok kotoran sembelihan ternak yang dilempar kan ke atas punggung Rasulullah yang sedang shalat.

Sebagai seorang istri, Fatimah menjadi panutan bagi segenap Muslimah. Meski hidup amat sederhana, mereka sangat rukun, serasi, dan saling mencintai. Meski tidak seperti kakakkakaknya yang menikahi saudagar, nasib Fatimah amat beruntung karena Ali adalah pintu dari kota ilmu Rasulullah. Saat Fatimah tinggal di kota ilmu yang teramat luas, tentu ia tak mau meninggalkan pintu dan mihrabnya.

Editor: A Syalaby Ichsan, Harian Republika

Resensi Novel Penakluk Badai

Mei 5, 2020

Resensi Komik Iqomic For Kids: Dakwah ala Komikus

Mei 5, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *