Backstory  dan Citra Tokoh dalam Fiksi

Backstory dan Citra Tokoh dalam Fiksi

Saat menulis karya fiksi, tanpa kita sadari mungkin kita terlalu fokus pada salah satu poin—plot, setting, hubungan antartokoh, adegan emosional, dsb. namun kita melupakan satu unsur penting yang dapat membuat tokoh menjadi lebih hidup, yaitu backstory.

Apa itu backstory? Backstory adalah naratif yang berisi asal-usul, sejarah kehidupan, atau pengalaman seorang tokoh. Dengan kata lain, backstory merupakan cerminan masa lalu yang memengaruhi perwatakan dan menjadi alasan kuat di balik tindakan, pilihan, keputusan, reaksi, cara bersikap, atau gaya hidup suatu tokoh. Unsur inilah yang akan membuat perilaku tokoh terasa masuk akal.

Sebagai contoh, tokoh A adalah sosok yang individual. Di balik sifat individualnya itu, ternyata ia memiliki masa lalu yang cukup buruk—mengalami pem-bully-an di sekolahnya dan broken home di mana orangtuanya saling mengkhianati. Dengan sejarah kehidupan seperti ini, pada kehidupannya di masa sekarang tokoh A menjadi pribadi yang mudah merasa terancam dan sulit dekat dengan orang lain karena minimnya rasa percaya terhadap orang lain sehingga menjadikannya individual.

Contoh berikutnya, tokoh B merupakan tokoh yang religius dan bijaksana. Sifat-sifat itu ia miliki karena berasal dari keluarga baik-baik dan religius, sehingga masuk akal jika pada kehidupannya saat ini pemahamannya mengenai agama tercermin dari nada bicaranya yang ramah dan tutur katanya yang baik dan bijak saat berdialog dengan tokoh lain.

Namun backstory tidak melulu harus menggambarkan sejarah kehidupan atau pengalaman tokoh yang terlalu jauh menelisik ke masa lalu sang tokoh. Backstory bisa digambarkan secukupnya—hanya mengambil sejumput pengalaman yang relevan dengan situasi yang dihadapi tokoh saat ini.

Sebagai contoh, ketika menulis mengenai kandasnya suatu hubungan, backstory yang disuguhkan bisa hanya berupa gambaran pengalaman-pengalaman tak menyenangkan yang terjadi selama hubungan tersebut berlangsung hingga menuntun tokoh-tokoh yang bersangkutan pada titik di mana hubungan tersebut berakhir.

Contohnya, seorang tokoh lelaki memutuskan untuk meninggalkan sosok yang dicintainya dengan backstory sebagai berikut: tokoh lelaki tersebut merupakan tokoh yang cukup cerdas untuk mendeteksi sindiran-sindiran dari kekasihnya namun terlalu baik dan sopan sehingga tidak melakukan perlawanan yang dapat menyakiti hati sang kekasih. Sebaliknya, tokoh perempuan digambarkan kurang cerdas dalam mengendalikan sikapnya dan sering kali menyindir ketika sang kekasih tidak menuruti keinginannya. Konflik-konflik kecil yang terus mewarnai hubungan mereka selama beberapa tahun akhirnya mengarah pada pertengkaran hebat dan perginya si tokoh lelaki yang tak tahan lagi dengan sikap kekasihnya. Dalam gambaran ini, tanpa backstory yang kuat akan terasa mengherankan jika tokoh lelaki memutuskan untuk meninggalkan kekasihnya begitu saja.

Singkat kata, backstory merupakan salah satu bagian penting dari sebuah karya fiksi yang dapat memperkuat citra suatu tokoh. Tanpa backstory yang terbangun dengan baik, tindakan-tindakan yang diambil oleh tokoh-tokoh fiktif akan terasa tidak memiliki dasar yang tepat.

Penulis: Indry

Resensi Buku Lembaga Budi

Mei 4, 2020

Resensi Novel Istri Kedua

Mei 4, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *