TAWAF BERSAMA REMBULAN

Obral!
()

Rp99,000.00 Rp79,200.00


Back Cover

“Bagi saya, buku karangan Muhammad Subarkah ini bisa dihayati
sebagai “dokumen sosial” tentang ibadah haji.”

—Fachry Ali, Pakar ilmu komunikasi dan pengamat politik

Kota Asal Pengiriman : Kota Jakarta Selatan
SKU: 978-623-7458-41-8 Kategori: Tag: , , ,

Description

Bagaimana orang Indonesia tempo doeloe melaksanakan ibadah haji? Betulkah Pangeran Diponegoro sangat berkeinginan untuk pergi ke Tanah Suci? Mengapa para raja di zaman dulu dan para politisi di masa kini menjadikan Mekah sebagai legitimasi? Lalu, ada apa di balik gelar haji? Mengapa kedudukan mereka di masyarakat begitu tinggi?

Lewat penulusuran yang panjang, penulis menghadirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas lewat cerita soal haji, dari dulu hinggi kini. Kita diajak ke masa lalu, dan membayangkan betapa susahnya perjuangan orangtua kita berziarah ke Tanah Suci. Tidak lupa juga disampaikan kondisi Arab Saudi terkini, yang terus berbenah menyambut tamu Allah dari berbagai penjuru negeri. Ibadah haji memang memiliki kedudukan yang penting dan istimewa di hati umat Islam dari dulu, kini, dan nanti.

Book Details

Weight 350 g
Dimensions 13.5 × 20.5 cm
Author

Muhammad Subarkah

Publisher

Republika Penerbit

Reviews

2 reviews for TAWAF BERSAMA REMBULAN

  1. Moh. Mahrus Hasan

    Buku ini menyelisik (dikatakan ‘menyelisik’ karena membahas sampai pada hal-hal terkecil) tentang haji–termasuk peran Mekkah dan Madinah (Alharamain al-syarifain)–hampir dari semua aspek: (1) sejarah sosial yang panjang tentang pelaksanaan ibadah haji (2) haji sebagai ibadah, yang di beberapa daerah di nusantara dianggap bahwa belum Islam sebelum berhaji, (3) haji sebagai pemantik gerakan nasionalisme melawan penjajah, (4) haji sebagai bagian dari agenda politik nasional (dari zaman kerajaan-kerajaan nusantara hingga zaman pemerintahan Joko Widodo), (5) Haji sebagai penaik strata sosial di sebagian besar wilayah nusantara, sehingga gelar haji–yang tidak lazim dipakai negara-negara Islam timur tengah, misalnya–harus disematkan pada nama yang berhaji, dan (6) haji sebagai ajang bisnis semenjak pemerintahan kolonial Belanda hingga sekarang.

    Di luar itu semua, tidak berlebihan jika dikata bahwa pembaca buku ini seakan-akan disuguhkan pemandangan hiruk pikuk pelaksanaan ibadah haji semenjak di pelabuhan kapal laut hingga di kawasan lama sekitar Masjidilharam.

  2. Arina

    Buku ini kaya dengan nilai-nilai spiritualitas bahkan tentang kesejarahan haji bagi konteks Indonesia. Wajib dibaca untuk para insan budiman.

Add a review

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *