Buku Pengembangan Diri-Sadness Teman Bersedih karya Wafi Hakim al-Shidqy

Promo Spesial!
(7 customer reviews)

Rp63,750.00


Back Cover

Buku ini mengajak kita untuk adil terhadap rasa. Tidak perlu malu untuk bersedih. Bisa jadi ia jalan menuju bahagia.

Kota Asal Pengiriman : Kota Jakarta Selatan

Description

Buku ORI Republika Penerbit

Spesifikasi

Kategori : Agama
Ukuran : 13,5 x 20,5
Jenis Kertas Sampul: FC, art paper, 150 gr
Jenis Kertas Isi : BW, bookpaper, 55 gr
Buku ORI Republika Penerbit

“Buku ini mengungkap, ‘Sebenarnya tidak mengapa untuk bersedih’. Buku ini ditulis untuk mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia seutuhnya, yakni makhluk dengan perasaan yang tidak melulu diberkati dengan tawa kebahagiaan tetapi juga kesedihan.”
Harian Republika

 

Panduan bagaimana kita mengolah rasa

“Kebahagiaan selalu didambakan, sedangkan kesedihan selalu disingkirkan.”

Yang selalu dilupakan manusia.
Padahal mereka memiliki rasa.
Entah mengapa,
Demikian kenyataannya.
Apakah yang ingin dirasakan
manusia hanya bahagia saja?
Aku juga bingung dengannya.
Yang egois dalam mengelola rasa.
Dasar aku, kamu, kita semua.

Buku Sadness Teman Bersedih mengajak kita untuk adil terhadap rasa. Tidak perlu malu untuk bersedih. Bisa jadi ia jalan menuju bahagia. Yang penting tidak berlebihan. Jangankan sedih, bahagia pun bila berlebihan hasilnya tidak akan baik.

 

Book Details

Weight 250 g
Dimensions 13.5 × 20.5 cm
Author

WAFI HAKIM AL-SHIDQY

Publisher

Republika Penerbit

Reviews

7 reviews for Buku Pengembangan Diri-Sadness Teman Bersedih karya Wafi Hakim al-Shidqy

  1. Qonitin Abdillah

    Buku Sadness Teman Bersedih mengajak kita untuk adil terhadap rasa. Jangan sampai mendzalimi diri sendiri yaa. Tidak perlu malu untuk bersedih. Bisa jadi ia jalan menuju bahagia.

    Bukankah kesedihan lebih menguatkan bahkan tak segan ia mengingatkan keberadaan kita yang jauh dari Rabb.

    Sayang, kebanyakan dari kita masih memikirkan egonya untuk terus bahagia.

    Seakan hidup ini ada hanya untuk bahagia.

    Tak harus menjadi langit jika tujuannya bahagia. Bukankah bumi pun bisa? Permasalahannya apakah kita mensyukurinya? Ya, tentang nikmat yang sering kita lupa.

    Bersedihlah jika membuatmu nyaman.

    Dan teman bersedih ini sangat aku sarankan untuk dibaca pelan-pelan. Nikmati setiap proses kesedihanmu untuk jadi lebih baik. Bonusnya, buku ini juga full nuansa biru, ya itulah warna kesedihan. Gak bosen deh!

  2. ratnani_latifah

    “Lari dari kesedihan adalah bentuk dari kesombongan.”(hal 22)

    Siapa, sih yang tidak pernah merasa sedih? Saya yakin setiap orang pernah merasa sedih.Tinggal bagaimana menyikapi kesedihan tersebut. Bahkan Rasulullah pun pernah merasa sedih.

    Buku ini mengajak pembaca untuk memahami makna kesedihan dari sudut pandang yang berbeda. Kita diingatkan bahwa sesekali merasa sedih bukanlah suatu aib. Namun itu wajar. Karena kesedihan adalah salah satu bumbu kehidupan. Tidak mungkin setiap saat kita merasa bahagia. Hidup itu berputar, ada suka, duka.Maka jangan takut mengekspresikan kesedihan. Yang terpenting kita tidak sampai larut hingga lupa daratan. Ingatlah masih ada Allah yang siap menjadi pendengar, tempat bersandar.

    Secara keseluruhan buku bagus. Banyak quotes yang bertebaran yang membuat kita semakin menyadari bagaimana mengelola rasa sedih dengan bijak. Di antaranya “Orang terkuat, bukanlah dia yang mampu mengalahkan lawan, tapi dia yang mampu meredam kemarahan. Orang terbaik, bukan dia yang selalu menebar senyuman, tapi dia yang mampu tampil dengan penuh ketulusan.” (hal.25)

  3. Arzetta Luxfia

    Buku ini berisi kata-kata yang dirangkai sangat menarik sehingga saya betah berlama-lama membacanya. Buku ini bagai teman, teman yang langka karena jika teman pada umumnya melihat kita menangis mereka akan bilang “sudah jangan menangis” atau “kamu sudah besar buat apa menangis” namun buku ini akan mengatakan sebaliknya “tidak apa-apa menangis” “menangislah kalau itu membuatmu tenang”

    Penulis buku ini pandai memilih topik yang sangat akrab dengan masalah sehari-hari. Beliau juga sangat baik dalam mendeskripsikan bagaimana cara berlaku adil terhadap rasa. Bagaimana sedih membuat hati menjadi lembut, atau apa yang terjadi jika mengesampingkan perasaan sedih, hal-hal tersebut dibahas dalam buku ini

    Recommended 👍

  4. Arzetta Luxfia

    Buku ini berisi kata-kata yang dirangkai sangat menarik sehingga saya betah berlama-lama membacanya. Buku ini bagai teman, teman yang langka karena jika teman pada umumnya melihat kita menangis mereka akan bilang “sudah jangan menangis” atau “kamu sudah besar buat apa menangis” namun buku ini akan mengatakan sebaliknya “tidak apa-apa menangis” “menangislah kalau itu membuatmu tenang”

    Penulis buku ini pandai memilih topik yang sangat akrab dengan masalah sehari-hari. Beliau juga sangat baik dalam mendeskripsikan bagaimana cara berlaku adil terhadap rasa. Bagaimana sedih membuat hati menjadi lembut, atau apa yang terjadi jika mengesampingkan perasaan sedih, hal-hal tersebut dibahas dalam buku ini

  5. Fitrin Yunita (verified owner)

    Salah satu buku non-fiksi yang menghadirkan bagaimana mengenal rasa sedih. Didalamnya berisi tentang kondisi dimana kita merasakan kesedihan, misalnya kematian, kegagalan, insecure, penyesalan, dll. Selain itu disisipkan ayat2 Al Qur’an dan Hadist sebagai penguat bagaimana kita bisa menerima suatu keadaan.

    “Ketika banyak orang mencari bagaimana caranya mendapatkan kebagiaan dengan menyingkirkan kesedihan, namun sebenarnya tidaklah mengapa untuk bersedih, karena rasa sedih juga diciptakan, karena yang paling utama adalah bagaimana me”manage” rasa sedih itu”.

  6. itsme1disisi

    Dalam hidup ini mungkin kita pernah melakukan dosa. Itu manusiawi. Tapi sesuatu yang berkepanjangan yang hingga menjadi kebiasaan itu adalah sebuah keburukan.

    itu adalah titik yang paling menyedihkan dari seorang pendosa. ketika dirinya merasa baik-baik saja dan tanpa penyesalan. Apa yang telah dilakukan tanpa sedikitpun usaha untuk berubah menuju kebaikan.

    Mereka cuek saja. Begitulah kadang kita sulit untuk melepaskan keburukan. namun janganlah berhenti untuk memohon ampun dan berusaha untuk terus berubah.

    Sebab semua salah dan perubahan itu akan datang pada waktunya. Berhati-hatilah dengan keadaan yang tetap menghadirkan kenyamanan sementara rezeki terus turun.

    Karena itu bisa jadi merupakan tabarruj yang membiarkan kita dalam kemaksiatan. Itu adalah ujian. Bersedihlah jika merasa sulit untuk lepas dari kecanduan. Padahal Allah pasti akan memberikan jalan dan memudahkan bagi yang memiliki kemauan. Maka musnahkanlah virus yang menjangkiti hati dan akhirilah candu yang tak bertepi.

    Buku ini sangat memotivasi diri untuk lebih baik. Banyak renungan yang bakal membuat kita merasa harus semakin memperbaiki diri. Baiknya kita baca satu per satu judul lalu direnungkan, diendapkan, dan dimaknai dalam-dalam. Niscaya dia akan membekas dengan kuat dan memberi dampak pada diri.

  7. Neila Fauzani

    Buku ini bukan buku untuk semua orang. Maksudku jika kalian tidak mau capek, untuk apa menghabiskan waktu membaca buku, bukan? Jika kalian ingin memenuhi tuntutan dunia, untuk apa memikirkan cara bersedih. Buku ini untuk orang-orang lelah yang mau berpikir lebih dalam tentang hidup dan segala benang kusut di dalamnya.

    Buku ini ibarat meditasi. Membantu mengeluarkan energi negatif yang selama ini dipaksa menetap karena tidak mendapat ruang untuk hidup. Di saat orang lain menuntutmu untuk selalu baik-baik sana. Buku ini memintamu bersedih dan menemanimu bersedih. Karena sejatinya kesedihan dan kebahagiaan adalah satu paket rasa yang semestinya ada dalam hidup. Sebab hidup seperti roda. Kadang di atas dan di bawah. Perputarannya hanya mengantarmu untuk cepat sampai pada tujuan.

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like…

Promo Spesial!
Promo Spesial!