Buku Pengembangan Diri-Ketika Rembulan Insecure

Promo Spesial!
(2 customer reviews)

Rp63,750.00


Back Cover

“Sangat menginspirasi dan recommended buat semua kalangan khususnya anak remaja yang saat ini…”

—Kumparan

Kota Asal Pengiriman : Kota Jakarta Selatan

Description

Buku ORI Republika Penerbit

Spesifikasi

Kategori   : Buku Agama
Ukuran : 13,5 x 20,5
Jenis Kertas Sampul: FC, art paper, 150 gr
Jenis Kertas Isi : BW, bookpaper, 55 gr

 

“Sangat menginspirasi buat semua kalangan khususnya anak remaja yang saat ini sering merasa insecure untuk open mind tentang insecure agar lebih banyak bersyukur.”
—Kumparan.com

“Ada apa dengan kulit hitam, rapor merah, atau tubuh pendek? Apakah bahagia harus sempurna? Lalu, untuk apa kita diciptakan berbeda?”

“Apalah aku yang cuma remahan rengginang?”

Please lah, ya. Kalau udah sadar diri kalian cuma kentang, jangan malah pasrah gitu aja! Mikir kek, gimana caranya jadi keripik atau mungkin jadi kentang goreng. Masa iya sih, mau jadi kentang mentah terus. Upgrade dong! buat dirimu jadi mahal.

Pesan utama dari buku ini adalah tidak apa-apa menjadi insecure—merasa tidak aman karena memiliki kekurangan. Tetapi, jangan hal tersebut membuat kita merebahkan badan dan menyalahkan diri sendiri. Kesadaran akan kekurangan mendorong kita untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Diri kita ini perlu perbaikan. Begitu pula dengan hati yang butuh asupan.

Rembulan saja yang dipersepsikan sebagai simbol kesempurnaan dan kecantikan memiliki kekurangan. Apalagi manusia yang dilahirkan dengan beragam perbedaan. Tidak usah khawatir dengan rasa insecure. Ubah kekhawatiran menjadi penyemangat untuk meningkatkan diri.

Book Details

Weight 300 g
Dimensions 13.5 × 20.5 cm
Publisher

Republika Penerbit

Reviews

2 reviews for Buku Pengembangan Diri-Ketika Rembulan Insecure

  1. syechreja

    Buku ‘Ketika Rembulan Insecure’ adalah buku yang kebetulan secara tidak sengaja saya pilih beberapa waktu lalu untuk meminangnya. Saya adalah tipe orang yang kalau membeli buku tidak perlu membaca Blurb atau sinopsisnya terlebih dahulu, melainkan menilainya dari judul dan cover. Jika hal tersebut berhasil menarik hati saya maka akan saya pinang dengan segera, namun jika dari sekian buku yang saya lihat tidak ada yang berhasil menarik hati, maka saya harus turun tangan untuk membaca sinopsisnya.

    Setelah beberapa hari menanti kedatangannya, buku ini menjadi buku pertama yang saya buka dan baca. Baru beberapa halaman dari (Masa, Perjalanan, dan beberapa bulan) saya tapaki. Nampaknya menjadikan diri saya semakin penasaran dan berhasil menjadikan saya semakin merasa bodoh. Ternyata selama ini saya dibodohi akal tidak sehat saya, padahal kalau saya menyadari dari dulu saya itu mahluk yang istimewa dan luar biasa, saya tidak akan seperti ini.

    Dari beberapa perjalanan yang saya baca dari buku ini. Sedikit banyak telah memotivasi saya untuk bangkit dan lebih percaya dan yakin terhadap kemampuan, kekuatan, potensi dan bakat yang saya miliki yang telah Allah gariskan sejak lahir.

    Terima kasih, Bang Wafi atas buku luar biasanya. Terima kasih telah memotivasi saya melalui karya sederhana namun penuh makna ini. Smg Allah meridhai kita Aamiin.

    Terima kasih juga kepada Republika yang telah menyajikan bacaan luar biasa ini. Terus jaya

    Salam,
    Reja (mr.reja18)

  2. Mikrofid

    Insecure adalah topik yang belakangan ini sering dibahas. Jika saya perhatikan uraian sampul belakang, bisa disimpulkan penulis sedang mempertanyakan alasan fenomena insecure ini sebagai ajang untuk menyerah yang dinyatakan dengan “Please lah, ya. Kalau udah sadar diri kalian cuma kentang, jangan malah pasrah gitu aja! Mikir kek, gimana caranya jadi keripik atau mungkin jadi kentang goreng. Masa iya sih, mau jadi kentang mentah terus. Upgrade dong! Buat dirimu jadi mahal.”⁣

    Seperti yang bisa dibaca contoh sebelumnya, gaya kepenulisan buku ini sangat ringan. Ibarat, kita sedang membaca surat dari seorang teman yang kalau bicara itu santai, tapi apa adanya (langsung nusuk, eh bener). Kita tidak ditimang-timang, lebih berani bicara pendapatnya. ⁣

    Keunikannya, penulis menggunakan rembulan sebagai “sosok tinggi” di mana sehebat dia saja bisa merasa insecure, apalagi “si rendah”. Rembulan digunakan sebagai perumpamaan. Intinya, siapapun akan merasakan insecure walau sesempurna apapun ia di mata orang lain (tandai, di mata orang). ⁣

    Bab dalam buku ini menggunakan penyebutan bulan: Januari, Februari, Maret, dst. Dalam setiap bulan, saya dimanjakan dengan foto-foto betapa indahnya rembulan dengan beberapa fakta terkait. Jika saya maknai, mungkin penulis sedang menunjukkan betapa indahnya rembulan yang selalu dipuji-puji daaaan tentu saja sehebat itu masih insecure.⁣

    Pada awalnya, saya bingung dengan istilah “Peristiwa” pada awal buku. Saya ditunjukkan pada nama-nama bulan. Saya sempat berpikir ini adalah teka-teki. Tiap angka pada nama bulan pasti menunjukkan makna tertentu. Baru saya sadari belakangan ternyata itu cuma sebuah daftar isi. Emang dasar tenggelam dalam pikiran sok dektektif~~ mau ngetawain diri sendiri. ⁣

    Buku ini bisa selesai dalam satu-dua hari. Bagi pembaca yang ingin buku sederhana namun bermotivasi, “Ketika Rembulan Insecure” mungkin bisa jadi cemilan. ⁣

    Bagaimana manusia itu? ⁣
    Bagaimana merespon kekurangan? ⁣
    Bagaimana bereaksi pada naluri manusiawi? ⁣
    Apa hakikat kesempurnaan? ⁣
    Bagaimana dampak dan penyebab insecure? ⁣
    Siapa yang mudah terkena insecure? ⁣
    Apa nikmat yang dapat membuat insecure? ⁣
    Bagaimana insecure hadir?⁣
    Bagaimana mengatasi insecure? ⁣

    Setidaknya, pertanyaan di atas merupakan permasalahan di dalam buku ini. Tapi, jangan dipikir buku ini akan menguras isi kepala pembaca. Santai saja.

    Tidak sekedar motivasi, penulis seperti ingin kita berfokus pada pemikiran dasar: Hakikat manusia. Saya tertarik dengan sudut pandang ini. Motivasi yang manis itu daripada menanam harapan, lebih baik membuat seseorang berpijak dengan kakinya sendiri alias sadar perberbedaan dan berharganya diri. Penulis menggunakan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadist sebagai rujukan “Manusia” dan “Rezeki”. Mana yang katanya mencintai diri sendiri, kenapa malah melemahkan diri? Pengingat, kadang kita gak objektif memaknai cinta. Bukankah cinta itu melakukan yang terbaik untuk yang dicinta? Jika diri sendiri, berarti ya yang terbaik bagi diri. ⁣

    Terus, saya membayangkan rasanya membaca buku ini bukan dlm sehari, tapi setahun. Buku ini membagi tiap bab dalam bulan, alangkah greget jika saya melakukan progress baca perbulan. Satu bulan merenungkan apa yang ada dalam 1 bab. Menarik, ya? ⁣

    Saya juga tertarik dengan salah satu bulan: Juni. Rupanya penulis tidak lupa untuk menyampaikan semacam “Jangan terlalu berusaha begitu keras”, yakni kita pun butuh jeda dalam sesuatu. Penyampaian dengan sangat sederhana membuat bulan tersebut sebagai salah satu yang berdampak kuat di kepala saya. ⁣

    Sebagai penutup, saya tulis kutipan favorit: ⁣

    “Bukan aku atau mereka yang kejam, tapi pemikiranmulah yang menusuk terlalu dalam” ⁣

    Tepat, kan? Wahai diri jangan jadi musuh dalam selimut 🙂⁣

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like…