AYAH… (2019)

Obral!
()

Rp49,000.00 Rp39,200.00


Back Cover

“Ayah…is a charming, personal, and informative book,” James Rush, Associate Professor of history, Arizona State University, AS

LIHAT VERSI E-BOOK

Kota Asal Pengiriman : Kota Jakarta Selatan

Stok habis

Description

“Buya Hamka merupakan ulama dan mubaligh yang hebat. Banyak ulama besar, tap tidak menjadi mubaligh yang besar. Saya pernah mendengar ceramah beliau ketika di Makasar sebanyak 36 kali ceramah, dan tidak ada satu pun yang sama. Hebat sekali,” H. Muhammad Jusuf Kalla, Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia/Mantan Wakil Presiden.

Buku ini memuat serangkaian kisah tentang Buya Hamka di mata putra kelimanya, Irfan Hamka, yang meliputi kehidupa masa kecil, remaja, dewasa, berkeluarga, hingga memiliki 12 orang anak; memulai jalan dakwah sebagai politisi, sastrawan, dan ulama; akidah dan pedoman hidup Buya Hamka; hubungan Buya Hamka dengan masjid al-Azhar; bagaimana kehidupan Buya Hamka saat istrinya meninggal; menghadapi fitnah, kebencian, dan penjara; hingga Buya Hamka meninggal dunia.

Semua kisah diceritakan dan dikemas dalam tulisan yang ringan, mengalir, dan sarat dengan pesan moral dan keteladanan. Pengantar Taufiq Ismail semakin melengkapi keindahan buku ini.

Book Details

Weight 291 g
Dimensions 13.5 × 20.5 cm
Halaman

349

Tahun Terbit

2013

Author

Irfan Hamka

Publisher

Republika Penerbit

Reviews

2 reviews for AYAH… (2019)

  1. Muhammad Ibrahim

    Sebagaimana Peribahasa “semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya”, itulah yang dialami oleh Ulama kita Alm. Prof. Dr. Buya Hamka dikala alur kehidupannya menghadapi berbagai macam fitnah, kebencian, dan bahkan sampai beliau di penjara dengan tuduhan beliau ikut terlibat dalam rencana melakukan pembunuhan Presiden Soekarno. Pada tanggal 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditahan tanpa adanya pengadilan selama dua tahun empat bulan beliau di dalam penjara. Namun peristiwa itu tidak membuatnya putus asa, di dalam penjara lahirlah Tafsir Al-Qur’an 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Tidak ada kebencian di dalam dirinya, hati beliau lembut, dikala orang yang memenjarakannya (Presiden Soekarno) telah wafat dan dia berwasiat yang menjadi Imam Shalat Jenazahnya adalah Buya Hamka, maka dikala utusannya datang kepada Buya Hamka menyampaikan wasiat tersebut, tanpa basa basi beliau mengiyakan dan memenuhi wasiat tersebut, dan beliau tidak mengingat dikala dipenjara bukan hanya dirinya yang menderita, tetapi keluarga isteri dan anaknya juga menderita bahkan isteri tercinta beliau (Almarhumah Siti Raham) harus menjual perhiasannya untuk dapat bertahan hidup.

    Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua. Alhamdulillah, insya Allah Almarhum Prof. Dr. Buya Hamka termasuk salah satu dari orang-orang yang dimaksud kalimat tersebut.
    اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ 🤲

  2. Roni Haldi

    Buku ini adalah kisah nyata dari orang dekat dengan sumber cerita. Walau miliki hubungan yang kuat, namun bahasa yang digunakan cukup jauh dari hiperbola; bisa terkesan terlalu melambung tinggi kan tokoh yang jadi bahan cerita. Walaupun sang tokoh adalah ayah kandungnya sendiri, yaitu Buya Hamka.

    Tentu buku ini punya kekurangan dari segi cerita. Karena isi dari buku yang disampaikan oleh Rusdi Hamka yang tak seumur dengan tokoh Ayah yang menghiasi hampir setiap halaman buku ini. Namun penulis berusaha sekuat ingatannya mengulang kembali memori lama yang masih membekas memberi kesan mendalam dalam perjalanan kehidupan keluarga mereka.

    Ayah tetap tak berubah kedudukannya Dimata anak-anaknya. Yaitu tauladan dalam bicara dan bersikap bagi anak-anaknya. Tulang punggung keluarga dalam kondisi bagaimana pun jua. Sebaik-baik dan sehebat-hebatnya seorang ayah, tetap saja ia adalah seorang manusia. Tak lekang dan luput dari kesalahan dan kesilapan sikap dan kata. Namun sosok seorang ayah tetaplah kebanggaan bagi anak-anaknya.

Add a review

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *