Belajar Makna Sabar dari Sosok Perempuan Inspiratif (resensi: I am Sarahza)

Belajar Makna Sabar dari Sosok Perempuan Inspiratif (resensi: I am Sarahza)

Sabar merupakan sikap yang sangat mulia dan dimuliakan dalam agama. Allah bahkan berpesan melalui Alquran yang kurang lebih berarti, “Sesungguhnya Aku bersama orang-orang yang bersabar”. Namun, faktanya, menerapkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari bukanlah perkara gampang. Terlebih bersabar dalam menghadapi masalah. Kita sering kali mengeluh ketika ada masalah yang menghampiri. Memang, sikap mengeluh merupakan hal yang manusiawi. Tapi terlalu sering mengeluh tanpa berusaha mencari solusi adalah perbuatan yang sia-sia.

Hal ini mungkin saja terjadi karena kita menganggap bahwa masalah yang sedang menghimpit, demikian rumit dan kompleks. Padahal, banyak orang lain di luar sana mengalami persoalan yang jauh lebih kompleks dari yang kita hadapi. Tapi mereka tetap sabar dan tabah. Oleh karena itu, kita perlu membuka mata ke lingkungan sekitar dan mengambil pelajaran dari orang-orang bijak. Salah satu caranya adalah dengan membaca kisah mereka. Seperti sosok perempuan dalam novel berjudul “I am Sarahza” ini contohnya.

Buah pikiran terbaru Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang mereka alami selama menanti sang momongan. Biduk rumah tangga mereka hampir berusia dua belas tahun ketika akhirnya Allah mengaruniai mereka seorang anak. Tentu sebuah penantian yang panjang, bukan? Selama masa itu, banyak cara yang mereka tempuh agar bisa memeroleh keturunan. Pada tahun ketiga pernikahan, Hanum mulai mencoba program inseminasi di sebuah klinik Der Kinderwuensch atau Klinik Harapan Keluarga dibawah penanganan dokter Eva Herz di Wina, Austria. Di sana ia mengikuti suaminya yang sedang menempuh kuliah Doktoral (Strata 3). Akan tetapi, sayang sekali, program inseminasi pertama ini gagal.

Tak mau putus asa begitu saja, Hanum pun mencoba inseminasi kedua dan ketiga. Hasilnya mereka kembali gagal mewujudkan impian mempunyai anak melalui metode canggih tersebut. Akhirnya, setelah kembali ke Indonesia, pada tahun ketujuh pernikahan, mantan reporter swasta nasional ini memutuskan untuk mengikuti program In Vitro Fertilization (IVF) atau yang lzaim disebut dengan bayi tabung di Klinik Permata Hati, Yogyakarta. Tapi, dibawah penanganan dokter Showfal Widad, lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Kegagalan demi kegagalan yang dialami Hanum membuatnya kehilangan harapan untuk memiliki anak. Bahkan ia sempat mengalami depresi. Dan pada puncak keputus asaannya, ia pernah meminta suaminya untuk mencari perempuan lain yang dapat memberinya keturunan.

Di sinilah kesetiaan cinta diuji. Alih-alih menuruti kemauan istrinya, Rangga justru menjelma bak seorang Malaikat. Ia sadar bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dengan naluri menguasai hingga mendominasi. Karena alasan itu sebagian besar laki-laki menerjemahkan poligami sebagai pengejawantahan, mengklaim sunnah yang dikuatkan. Namun, tidak demikian menurut Rangga. Kehebatan seorang laki-laki justru tidak ditentukan dari kemampuannya memiliki banyak wanita, tapi ketika ia berani memutuskan untuk setia hanya pada satu wanita (Hal. 211).

Akhirnya, berkat kesabaran dan ketegaran dalam melewati ujian besar itu, Allah menganugerahkan Hanum seorang anak perempuan pada tahun kesebelas pernikahan mereka, setelah melewati proses bayi tabung keenam. Sarahza Reashira nama bayi perempuan itu. Apa yang dilakukan sosok perempuan inspiratif ini patut dijadikan pelajaran bagi para perempuan dalam menempuh biduk rumah tangga mereka. Bahkan tidak hanya kaum hawa, tapi bagi siapa saja yang ingin belajar makna sabar yang sesungguhnya. (Marzuki Wardi, Kabar Madura)

Banyak Cara untuk Bahagia (resensi #99 Love Your Mind)

April 5, 2019

One Thought on Belajar Makna Sabar dari Sosok Perempuan Inspiratif (resensi: I am Sarahza)

  1. Outstanding story there. What happened after? Good luck!

    Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *