Please wait...
Penulis 188 - Artikel 20 - Buku 308

Senandung Bisu
Category: Novel | Author: Aguk Irawan MN |
(0 comment(s), add review)



Rp. 68.000

Price before: Rp. 85.000
Discount: -20%

Product detail:
ISBN

9786020822990

Issue

2018

Total Pages

396 halaman

Dimension

13,5 x 20,5 cm

Cover

Softcover

Color

Black-White

weight

700 gram

Publishing

REPUBLIKA PENERBIT




Total
Qty
  MY BAG 0

SINOPSIS

Surga….
Ajaran suci menyatakan bahwa di telapak kaki seorang ibu-lah surga berada. Maka akal pun bertanya: Ibu yang bagaimana? Apakah di setiap tapak kaki ibu, tanpa memedulikan wataknya, sifatnya, perangainya, tingkah-laku dan perbuatannya? Adakah surga di bawah telapak kaki ibunya Rahim dalam kisah novel ini?
Rahim…
Dia adalah anak bungsu, anak terakhir. Bapak-ibunya—sebagaimana keyakinan sebagian orang—percaya filsafat yang mengatakan “banyak anak banyak rezeki”. Awal kehidupan Dlori dan Zulfin—orang tua Rahim—diliputi suasana yang penuh cinta dan kasih sayang, bahagia, dan berkecukupan. Kehidupan keduanya membuat iri para tetangga. Para tetangga seringkali berkasak-kusuk, saling memamerkan kelebihan, membangga-banggakan harta, anak, dan keturunan. Telinga pun memerah dan hati terasa sangat sakit karenanya. Zulfin terjebak pada perbandingan-perbandingan itu, dan “memaksa” diri dan suaminya agar bisa membuktikan pada semua orang bahwa walau anaknya banyak, mereka akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Nafsu untuk memburu kesuksesan dan kebahagiaan di satu sisi, dan tujuan untuk membuktikan diri di hadapan semua orang di sisi lain, telah memerangkap pasangan suami istri itu ke dalam kubangan sedih dan air mata. Si bungsu Rahim menjadi korbannya.
Inilah kisah tentang bagaimana sebenar-benarnya menjalani kehidupan dalam rumah tangga. Apalagi, rumah tangga itu adalah rumah tangga muslim. Anak adalah permata surga, hiburan bagi pandangan mata, cahaya jiwa, dan tambatan hati. Bila orang tua memiliki anak yang banyak, maka adalah hak bagi anak-anaknya untuk mendapatkan cinta dan kasih yang adil dari mereka. Tetapi Rahim tak mendapatkan hal itu. Rahim menjadi korban dari ketidakadilan orang tuanya sendiri. Sedari kecil, kelahirannya tak dikehendaki. Hidupnya sarat dengan hinaan dan caci-maki. Apa yang dengan riang dan hati gembira diberikan oleh orang tuanya kepada kakak-kakaknya, tak pernah mereka berikan untuk putra bungsunya ini. Rahim menjadi makhluk yang terasing bagi kedua orang tuanya dan kakak-kakak kandungnya sendiri.
Tetapi selalu ada Tuhan dimana-mana. Di Timur, maupun di Barat. Di hati orang yang sedih maupun orang yang meratap. Rahim yang tak tahu apa-apa dan tak bisa membahas kepedihan hati dan luka jiwanya, hanya bisa berharap suatu saat kelak ia akan diakui dengan sebenar-benarnya bahwa ia adalah anak dari orang tuanya. Bibir Rahim selalu membisu terhadap semua keburukan yang ia terima. Namun, hatinya selalu dipenuhi harapan bahwa Tuhan akan selalu memberi belas dan kasih-Nya…

 

 


REVIEW
- no product reviews from members -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260