Please wait...
Penulis 169 - Artikel 20 - Buku 261

SENANDUNG BISU
Category: Novel | Author: Aguk Irawan MN |
(0 comment(s), add review)



Rp. 0

Price before: Rp. 0
Discount: -20%





SINOPSIS

SENANDUNG BISU

 

by: Aguk Irawan MN

 

Ajaran suci menyatakan bahwa di telapak kaki seorang ibu-lah surga berada. Maka akal pun bertanya: Ibu yang bagaimana? Apakah di setiap tapak kaki ibu, tanpa memedulikan wataknya, sifatnya, perangainya, tingkah-laku dan perbuatannya? Adakah surga di bawah telapak kaki ibunya Rahim dalam kisah novel ini?

Rahim…

Dia adalah anak bungsu, anak terakhir. Bapak-ibunya—sebagaimana keyakinan sebagian orang—percaya filsafat yang mengatakan “banyak anak banyak rezeki”. Awal kehidupan Dlori dan Zulfin—orang tua Rahim—diliputi suasana yang penuh cinta dan kasih sayang, bahagia, dan berkecukupan. Kehidupan keduanya membuat iri para tetangga. Para tetangga seringkali berkasak-kusuk, saling memamerkan kelebihan, membangga-banggakan harta, anak, dan keturunan. Telinga pun memerah dan hati terasa sangat sakit karenanya. Zulfin terjebak pada perbandingan-perbandingan itu, dan “memaksa” diri dan suaminya agar bisa membuktikan pada semua orang bahwa walau anaknya banyak, mereka akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Nafsu untuk memburu kesuksesan dan kebahagiaan di satu sisi, dan tujuan untuk membuktikan diri di hadapan semua orang di sisi lain, telah memerangkap pasangan suami istri itu ke dalam kubangan sedih dan air mata. Si bungsu Rahim menjadi korbannya.

Inilah kisah tentang bagaimana sebenar-benarnya menjalani kehidupan dalam rumah tangga. Apalagi, rumah tangga itu adalah rumah tangga muslim. Anak adalah permata surga, hiburan bagi pandangan mata, cahaya jiwa, dan tambatan hati. Bila orang tua memiliki anak yang banyak, maka adalah hak bagi anak-anaknya untuk mendapatkan cinta dan kasih yang adil dari mereka. Tetapi Rahim tak mendapatkan hal itu. Rahim menjadi korban dari ketidakadilan orang tuanya sendiri. Sedari kecil, kelahirannya tak dikehendaki. Hidupnya sarat dengan hinaan dan caci-maki. Apa yang dengan riang dan hati gembira diberikan oleh orang tuanya kepada kakak-kakaknya, tak pernah mereka berikan untuk putra bungsunya ini. Rahim menjadi makhluk yang terasing bagi kedua orang tuanya dan kakak-kakak kandungnya sendiri..

 

 


REVIEW
- no product reviews from members -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260