Please wait...
Penulis 179 - Artikel 20 - Buku 293




Hal-hal Baik di Sekitar Kita
Tere Liye, Penulis "Pulang"
Category: Kata Penulis | Author: Tere Liye | | 14 Apr 2016, 15:56:32



Belakangan, saya kadang sangat sensitif dengan banyak hal. Terutama hal-hal menyebalkan yang menurut saya, seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah dan efisien.Dulu rasa2nya, saya bisa lebih sabar (tapi itu rasa2nya saja sih). Tapi syukurnya, saat emosi saya sedang naik, ada saja hal-hal ajaib yang terjadi, dan itu membuat saya menyadari, di dunia ini, kebaikan selalu ada di sekitar kita. Akan saya cerita dua diantaranya yang terjadi hari ini.

Sore ini, saya menuju ke bandara Bandung. Jika kalian belum pernah ke bandara Bandung, maka saya harus memberitahu, ini salah-satu bandara ?neraka? di Indonesia. Well yeah, saya tidak lebaybahkan dibanding bandara kelas kabupaten di Thailand atau Malaysia, bandara ini lebih buruk. Saya sudah berangkat 3 jam sebelum jadwal pesawat (bayangkan 3 jam dari rumah yang jaraknya hanya 10 km), tapi apa yang terjadi, persis masuk gerbang kompleks AURI / IPTN, jalan menuju bandara macet total. Mobil hanya maju 10-20 meter dalam hitungan 1 menit. Crazy sekali, padahal jaraknya masih 900-1000 meter. Hujan deras turun. 30 menit sudah ratusan mobil terkunci. Saya mending, punya waktu 2 jam lagi, yang lain, mobil2 lain sudah seperti adegan fast & furious, nyelip apapun celah yg ada.

Astaga, saya jengkel sekali. Sejak dulu, sejak bertahun2, kemacetan seperti ini tidak pernah kunjung ada solusinya. Apa saja sih yang dilakukan otoritas bandara? Bagaimana bandara ini bisa naik kelas, jika akses masuknya saja sangat menyebalkan. Jangan tanya soal bandaranya sendiri, terminal kampung rambutan mungkin lebih nyaman. Penuh sesak. Mulai dari pintu masuk, antrian panjang kemana2. Pengguna bandara itu bayar airport tax, mereka berhak dapat servis luar biasa, tapi bandara Bandung, entahlah, apa otoritas bandara ini paham soal service level.

Saat jengkel saya memuncak, hujan akhirnya reda, menyisakan rinai. Saya memutuskan turun dari taksi, lebih baik jalan kaki. Pak sopir tidak keberatan, dia bisa segera memutar mencari penumpang lain, jadilah saya menyeret koper di bawah gerimis. Ajaib, saat saya bersiap berjalan kaki 800 meter ke depan sana, melewati ratusan mobil yang menyemut, ada motor berhenti di sebelah. Pengemudinya mengenakan jaket loreng tentara. ?Mau bareng, dek?? Saya tidak sempat berpikir banyak, mengangguk, langsung naik membawa koper. Saya kira itu ojek. Motor ini lincah meniti celah2 sempit, melaju menuju bandara. 5 menit, tiba di depan gerbang keberangkatan. Saya menurunkan koper, bersiap mengeluarkan dompet, mau bayar. Bapak itu menggeleng, tersenyum. Dia memang bukan tukang ojek. Dia simply menawarkan tumpangan. Saya termangu di bawah gerimis, motor tersebut melanjutkan perjalanan ke komplek AURI.

Kebaikan itu masih ada di sekitar kita. Saya mengusap wajah yang basah.

Besok, 1 April, gedung baru bandara Bandung akan diresmikan, semoga itu mengubah banyak situasi bandara ini. Semoga besok otoritas bandara memikirkan lalu lintas akses ke bandara. Percuma punya gedung bagus, jika utk masuk ke gedungnya saja susah payah. Tapi saya yakin, pasti ada yang masih bersedia memikirkannya, yang tulus ingin berbuat baik. Persis seperti pengemudi motor tadi, dia tidak kenal saya, ringan sekali menawarkan tumpangan. Terima kasih banyak, Pak. Padahal kalau Bapak mau terus melaju, tidak usah peduli dengan saya, itu sah-sah saja.

Kejadian kedua, tiba di Surabaya, transit beberapa jam sebelum menuju Jayapura, saya menerima kabar dari panitia di Jayapura, bahwa mereka belum mengunci booking kamar hotel. Wah, saya yang sedang santai menunggu pesawat, langsung emosi. Ini terlalu, saya sudah otw ke lokasi acara, mereka belum mengunci hotel. Bagaimana kalau sy tiba besok pagi di Jayapura, hotelnya tidak dapat? Jarang sekali kasus ini terjadi, karena jelas panitia sudah dijelaskan jauh2 hari apa yang harus mereka lakukan, termasuk detail hotel. Baiklah, saya memutuskan untuk booking hotel sendiri, menelepon hotel, kemudian berlari2 kecil ke ATM melakukan deposit--karena internet banking saya mendadak terkunci. Itu waktu yang mepet sekali, karena boarding call tinggal hitungan menit, dan lokasi ATM ada di luar bandara.

Tega sekali panitianya, ini sangat tidak profesional. Tapi baiklah, saya mengalah, saya akan mengurus sendiri hotelnya. Lari keringatan melewati lobby bandara. Mereka mau ganti atau tidak booking hotel saya, terserah. Kadangkala kepanitiaan itu lupa, orang lain punya kesibukan dan prioritas, dan semua kesepakatan sebelum konfirmasi final sifatnya adalah ?janji?. Saya tidak hanya mengurus satu acara, ada buanyak acara2 lain.

Kembali dari ATM, saya naik pesawat persis paling belakang, menyeret koper. Itu sudah final call, tidak ada lagi penumpang yang antri di depan garbarata. Dengan rasa sebal yang menggunung saya bergegas. Bagaimana kalau saya ditinggal pesawat coba? Tapi hei, pas di garbarata, ada dua penumpang lain yang berjalan di belakang, saya menoleh. Saya kenal sekali salah-satunya. Menteri yang sering dibully banyak orang setiap urusan kenaikan premium dan solar.

Lama tidak bertemu dengan dia. Itu momen yang menarik (bagi saya; entah bagi pak menteri). Bersalaman. Basa-basi, dia nanya, ?Kapan film baru keluar??, saya nyengir, ?Mungkin akhir tahun, Pak. yang novel ?Daun yang jatuh tak pernah membenci angin??. Dia terlihat sehat, wajahnya cerah. ?Tidak stress Pak jadi menteri?? Itu pertanyaan reflek saya. Dia tertawa pelan, menepuk bahu. Tidak banyak percakapan, karena sudah masuk pesawat, pramugari sudah menyapa, kami masing2 menuju kursi. Dia jelas di business class yang kursinya lega, saya juga punya kursi sama leganya (tapi itu karena di emergency windows).

Rasa jengkel saya ke panitia acara di Jayapura menguap. Duduk di kursi, menghela nafas dalam-dalam. Bapak menteri yang tadi, dek, dalam kasus memutuskan gas masela apakah di laut atau di darat, bahkan seperti bertempur bharatayuda dengan menteri lain--dan dia harus menerima keputusan yang berbeda dengan penilaian profesionalnya. Saat menghabisi petral, mafia BBM, juga sama serius masalah yang dia hadapi. Tambahkan soal kenaikan BBM. Hei, masalah saya, yang cuma soal hotel sih kecil sekali dibanding hal2 tersebut. Entahlah. Pertemuan singkat itu membuat saya berpikir satu-dua hal. Sy tidak bilang, kalau saya sangat kenal dengan Menteri ini, tidak juga, sy hanya pernah bekerjasama selama 3 bulan saat dia menjadi profesional di salah-satu perusahaan, dan sebagai akuntan, sy mengerjakan sesuatu di sana, tapi sy tahu, dia berusaha melakukan yg terbaik utk orang banyak. Dia berusaha ramah dan terus sabar menghadapi banyak hal.

Hidup ini kadang dipenuhi hal2 menarik yang bisa jadi pelajaran. Pengemudi motor yang baik hati, seorang menteri, sama2 hidup sementara di bumi ini. Besok lusa pasti mati, toh? Dan saat mati, tidak ada yang peduli situ pernah jadi apa? Tapi yang ditanya, situ sudah bermanfaat sejauh mana? Kebaikan apa yang situ pernah lakukan dengan tulus. Termasuk saya, penulis, juga bakal ditanya hal yang sama.

Di tengah betapa sensitifnya saya belakangan ini, setidaknya, saya tahu, masih banyak orang2 baik di sekitar kita, dan itu bisa menjadi sumber energi agar kita juga selalu berusaha berbuat baik. Kita bisa saling menginspirasi. Sekecil apapun porsi kita, sesederhana apapun posisi kita, insya Allah, kita tetap bisa berbuat baik.


COMMENTS
  • Asti Pujiarti
    Post on 13 Mei 2016, 12:58:04
    Subhanallah...! setuju banget, Bang. masih banyak kebaikan di sekitar kita, meski terkadang kita sendiri lupa sudahkah kita berbuat baik pada sekitar kita. merasa masalah kita yang paling besar padahal banyak orang yang hidupnya lebih pelik.
    reply this comment
  • Nia Tresniati
    Post on 10 Mei 2016, 13:03:42
    Mana yang lebih besar kebaikannya mba antara pengemudi motor dengan bapak menteri? Kalo bapak pengemudi motor...dia tidak mengenal pamrih...tapi kalo bapak menteri itu bukan kewajiban beliau....
    reply this comment
  • Wulan Handayani
    Post on 16 Apr 2016, 21:07:48
    Karena semua perkara yang menimpa orang mu?min adalah kebaikan :)
    reply this comment





Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260