Please wait...
Penulis 180 - Artikel 20 - Buku 295




Rindu Dalam Puisi Yang Tidak Tuntas
Category: Sobat Republika | Author: Salman Al Faruq | | 21 Des 2016, 11:10:16



Tanah tidak pernah berbisik pada awan jika hujan memang belum datang
Yang dia lakukan hanya menunggu bersama debu sampai dirinya rekah
Biji bunga yang sedari dulu sudah dipeluknya dibisiki untuk menunggu sebentar
Selimut rumput yang dia kenakan direbahkan ke tanah biar sejuk sedikit
Seingat Tanah warna selimutnya pernah berwarna hijau sebelum jadi coklat

Tidak, sekali lagi dia tidak akan pernah hendak mengeluhkan rasa rindunya
Biarlah awan sedikit bersudi membawa uap yang bisa beranak-pinak jadi tetes
Awan juga linglung, merasa bersalah lama tidak membawa rinai walau sedikit
?Laut yang biasa disambangi tidak lagi sebasah dan sebiru yang pernah dikenal

Tanah yakin nanti yang ditunggu pasti menghampiri memberi balas
Semua juga akan tebayar lunas jika waktu memang dirasa sudah tepat


COMMENTS
- no comment yet -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260