Please wait...
Penulis 169 - Artikel 20 - Buku 261




Melangkah Pada Cinta Yang Kedua
Category: Sobat Republika | Author: Nila Resti Alfiani | | 12 Des 2016, 16:20:39



Selamat datang di kelabu rindu yang sering dirasakan hati-hati kesepian, atau hati-hati yang penuh dengan bunga-bunga karena telah terjerumus cinta. Kelabu yang bisa membuat mereka hanyut ke muara yang tidak berujung. Menghilangkan akal sehat untuk melihat siapa pemilih hidup ini sebenarnya. Kadang rasa rindu kepada umat-Nya amat mendalam dibandingkan dengan-Nya sendiri. Bagaimana tidak, jika tawaran untuk hanyut sangatlah menggiurkan hingga lupa bagaimana berenang menuju asal.
Selamat datang di hawa nafsu yang membara membawa rindu yang tidak pernah sampai pada tujuan. Mereka yang lupa bernapas demi melihat pujaannya. Mereka yang lupa berkedip demi melihat indahnya giuran cinta pujaannya. Mereka yang lupa menangis syukur demi kecemburuan pada pujaannya. Atau mereka yang sudah terlanjur menanamkan benci hanya karena hal-hal egois dan dibenci oleh-Nya. Hanya karena begitu, semua bisa berubah menjadi gelap, lebih gelap dari malam tanpa bulan dan bintang.
Di sini, yang InsyaAllah akan membawa kalian menuju satu situasi yang akan menyadarkan kalian bahwa Dia bisa membolak-balikkan apapun, bisa menarik-ulur apapun, bisa menghalangi apapun usaha kalian demi nafsu.
Kehidupan ini sebentar, bukan? Tidak ada yang abadi juga. Tidak ada yang selamanya tetap sama. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Tidak ada yang lebih memalukan daripada melupakan apa yang sudah Dia berikan, contohnya rasa. Kita semua diberi rasa yang dengan bebas boleh memilih dengan siapa rasa itu tertanam. Hanya saja terkadang kita dibuat gusar oleh rasa itu. Terkadang kita dibuat membenci sesuatu atau terlalu mencintai sesuatu oleh rasa itu. Atau terkadang kita mampu melakukan apapun demi mempertahankan rasa itu.
Rasa yang diberikan, boleh ditujukan kepada siapa saja. Misalkan saja pada laki-laki bernama Budi. Dimana rasamu sepenuhnya untuknya. Kamu korbankan rasamu hanya untuknya. Kamu korbankan kawanmu yang sudah kamu kenal sejak kecil dan sekarang kamu membenci kawanmu demi dia. Coba pikir apa untungnya? Mungkin kamu akan berkata, "kamu tidak tahu bagaimana rasanya berjuang demi dia. Aku sudah sampai pada titik akhir untuk memilikinya, maka harus aku lanjutkan sampai akhir!"
Begitukah? Kamu adalah seseorang yang sedang dilanda rasa yang namanya cinta nafsu. Cinta pada ciptaan-Nya dengan nafsu dan terlalu berlebihan. Baikkah hal semacam itu? Mungkin tidak. Coba pikir lagi, seberapa jauh kamu mengenal laki-laki bernama Budi itu dibanding Dia yang menciptakannya? Sejauh mana kamu sudah merelakan hatimu yang berasa itu untuk Budi dibanding dengan-Nya? Sayangnya yang mengalami hal sepertimu bukan kamu saja. Mungkin sudah banyak orang yang mengalami itu. Mereka juga sama, akan sama pertanyaan yang harus ditanyakan. Tapi apa jawabannya?
Jika sedikit boleh berbicara, rasa yang terlalu berlebih tidak lah baik, rasa yang terlalu dipaksakan akan berujung tidak baik. Itu hal mutlak menurutku. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan bagaimana pandanganmu terhadap hal itu. Aku juga tidak bisa mengengkangmu begitu saja, bukan hakku. Hakku di sini adalah mengingatkanmu akan sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, yang terlalu berlebihan. Kenapa? Jika kamu memaksa suatu rasa untuk Budi, tapi Budi tidak merasakan hal yang sama, apa yang bisa kamu lakukan? Memaksanya? Jawabannya adalah tidak boleh. Semua makhluk-Nya diberi kebebasan mempunyai rasa, kepada siapa saja. Hanya saja jika rasa yang kamu rasakan tidak sama dengan dia, maka artinya Dia sedang tidak mengijinkan kamu meneruskan rasa itu. Seperti itu. Lalu, jika semua kamu lakukan berlebihan, kamu akan terjebak dalam keserakahan yang menjerumuskanmu pada dosa yang dibenci oleh-Nya.
Aku bertanya lagi, pernahkan kamu merasa kecewa? Kecewa karena rasamu terhadap Budi? Jika pernah apa yang akan kamu lakukan? Jawab saja dalam hatimu.
Jika aku boleh menjawab, sering rasa yang bernama kecewa itu merasuk begitu saja begitu aku berada di suatu kondisi yang menyulitkan aku bernapas seperti biasa. Kecewa menusuk begitu dalam hingga aku menjadi benci terhadap rasaku sendiri. Apa kamu begitu? Jika iya apa yang kamu lakukan? Di sini posisiku bukan di atasmu, karena kita sama. Sama-sama makhluk-Nya yang berusaha keras melawan nafsu namun belum berhasil. Sama-sama makhluk-Nya yang berniat melupakan dia tapi belum bisa karena banyak masalah yang menyelingi.
Kecewa, bukan hanya sekali yang kamu rasakan, bukan? Saat kamu mencintai Budi, ada kala kamu merasa tidak seperti bahagia, tidak sesuai dengan hal yang kamu harapkan, Budi melakukan hal-hal yang membuatmu kecewa dengan mudah. Usaha apa yang akan dilakukan jika kejadiannya seperti itu? Entah. Tapi berpikirlah lagi kepada-Nya. Dia akan membantu setiap langkahmu menuju hal pasti yang Dia janjikan. Dia tidak akan mengingkari sebuah usaha untuk memberikanmu sebuah hasil yang memuaskan. Hanya tunggu kapan waktu Dia menyenggol keberhasilanmu itu dan diarahkan hanya padamu. Seperti rasamu yang Dia bebaskan, terserah padamu kamu berikan pada siapa termasuk Budi. Jika rasa itu Dia setujui, maka sebanyak apapun kamu dikecewakan oleh Budi, Dia akan menggantinya dengan berjuta kebahagiaan kelak nantinya, kamu bersama Budi.
Sebenarnya itu bukan janjiku, atau memberimu harapan yang palsu. Hanya sebuah motivasi kecil yang InsyaAllah akan membuatmu bertekad baik dan lebih berjuang dengan tetap mengingat-Nya. Boleh kamu berjuang keras mendapatkan hati Budi sepenuhnya, tapi jangan lupakan siapa yang menciptakan Budi beserta jiwa dan raganya. Jangan lupa bahwa rasa yang kamu punya diberikan cuma-cuma oleh-Nya agar kamu bisa bahagia di hidupmu. Dan jangan lupa untu melakukan semuanya sesuai porsi, tidak berlebihan dan tidak terlalu dipaksakan. Lelah, berhentilah. Kerjakan semampumu. Jodoh dan takdir sudah digariskan, jangan terlalu khawatir.

*

Berani mencintai, maka berani mengambil segala rasa sakit yang akan didapat kelak. Ketika kalimat itu didengar, maka aku sadar bahwa tidak selamanya mencintai itu menyenangkan seperti dalam cerita novel yang dibuat oleh penulis-penulis muda. Atau ketika kalimat itu didengar, maka semuanya terlihat benar bersamaan aku yang merasa patah dan rapuh di depannya selepas begitu keras mencintainya. Tidak habis pikir bagaimana segalanya terlihat menusuk. Tidak habis pikir bahwa Dia menunjukkan jalan dengan begitu serius bahwa dia bukanlah seseorang yang menjadi takdirku kelak. Bagaimana terasa sakit, bagaimana air mata selalu menetes begitu mengingat perjuangan yang kurasa hanyalah sia-sia. Tapi, Dia benar, bahwa dia bukanlah diaku.
Begitu benar, jika keputusan kala itu harus benar-benar dimantapkan dan dijalankan. Melepaskan duri tertajam semasa hidup tidaklah mudah. Bahkan duri yang awalnya menancap di hati dengan suka cita, kusambut suka cita, lalu berubah menjadi yang paling menyakitkan hingga aku harus berpegang pada apapun agar aku bisa tegak berdiri. Sekilas aku lupa. Bahwa ada pegangan yang paling kuat dibanding apapun. Aku melupakan si pembuat hati kuat dan lemah. Hati ini terselubung oleh perasaan-perasaan kecewa, benci, tidak suka, munafik, manuduh, dan berbagai lainnya. Hati ini menatap kawan kecil hingga tidak melihat bagaimana kebaikannya dulu hanya karena lebih didekati oleh dia.
Lalu hati rapuh ini harus berbuat apa?
Bersujud jawaban sebenarnya. Kadang tangis bersama Ibu membuat lega. Tapi itu jarang aku lakukan. Seakan malu jika mengaku bahwa aku sedang mencintai laki-laki, kecewa pada laki-laki, atau dikecewakan oleh laki-laki. Bersujud dan membaca kitabku, Alqur`an adalah jawaban. Belum kulakukan. Masih dalam proses diam yang berkepanjangan sampai aku menulis ini.
Banyak kawan yang menyadarkanku. Cinta pada ciptaan-Nya tidak semudah itu, tidak semenyenangkan itu, tidak seabadi itu. Cintai dulu penciptanya baru ciptaan-Nya. Bingung harus memulai dari mana. Harus mencintai dari mana. Harus berpegang pada yang mana. Harus menangis pada mana. Harus meminta maaf seperti apa, dosa yang begitu banyak tertumpuk, dosa karena terlalu nafsu mencintai ciptaan-Nya, dosa karena terlalu berpikir buruk pada orang lain yang dekat dengan ciptaan-Nya. Bodoh sekali diri ini. Nista sekali diri ini.
Mulai dari melirik, menatap lama, memikirkannya sepanjang malam, merindunya terkadang, menertawakan tingkah lucunya, berbicara dengannya dengan baik, mencuri padang diam-diam, merindunya lagi setiap waktu, sampai tahap mengkhawatirkan keadaannya kala dia sakit, dimana semua tahap itu artinya aku sudah benar-benar jatuh padanya.
Rindu. Adalah tindakan yang tidak boleh sebenarnya. Kenapa? Rindu menyebabkan rasa yang telah Dia berikan semakin dalam menjadi bukan sekedar tertarik atau suka, tapi bahkan cinta yang amat dalam. Hingga apapun yang dekat, aku benci. Apapun yang tidak sesuai dengan mauku, kubenci, kuperhatikan. Aneh.
Kadang aku berpikir kenapa Dia memberikan suatu rasa dengan cuma-cuma pada kita, yang bisa saja disalahgunakan, atau menjadikan kita terjebak sendiri dalam rasa itu. Kenapa juga Dia menciptakan rasa bernama cinta hingga ada rasa yang lain yang timbul yaitu benci. Siapa saja tahu bahwa cinta dan benci berbeda tipis sekali. Cinta bisa Dia balik menjadi benci, begitu pula benci bisa Dia balik menjadi cinta. Lucu, tapi memang begitulah yang dengan luar biasanya Dia ciptakan untuk mewarnai hidup di bumi yang singkat ini. Aneh, tapi ya begitulah Dia memberikan segala kebahagiaan dan kesedihan untuk kita sebagai makhluk-Nya.
Cinta yang kedua InsyaAllah kutujukan pada dia, makhluk ciptaan-Nya yang akan ditakdirkan untukku. Aku tidak tahu kapan aku bertemu, siapa dia, dimana tempat tinggalnya, bagaimana rupanya, bagaimana keluarganya, seperti apa akhlaknya, dan bagaimana cara-Nya mempertemukanku dengannya. Aku boleh menunggu, dan boleh istiqomah menunggu dia datang sendiri padaku. Aku tidak lagi mencoba mengganti pemilik hatiku setelah orang itu. Seakan aku lelah dengan kesakitan yang berlebihan ini. Maka aku hanya perlu berdoa, memuja-Nya, menaati segala perintah-Nya untuk mendapat sebuah anugerah yang tidak terbatas, rejeki yang tidak ada habisnya, kemudahan yang tidak berujung, keselamatan yang selalu tersedia untukku dan keluargaku.
Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak meminta siapa pun menjadi diaku, takdirku. Kuserahkan pada-Nya. Hanya Dia yang tahu siapa yang pantas untukku. Dia sudah menuliskan namanya, nama yang begitu indah.
Begitu. Meskipun berubah merupakan hal sulit. Meskipun berubah tidak bisa secepat kita mengedipkan kelopak mata, tapi aku berusaha menjadi yang terbaik untuk keluargaku, kawanku, saudaraku, dan pastinya Dia yang sudah memberikan kenikmatan untukku. Aku bukan perempuan yang sempurna, tidak cantik, tidak kaya juga. Tapi InsyaAllah dengan hati yang bersih, yang kucoba kubersihkan semampuku, aku akan berjuang secara istiqomah menuju cinta yang kedua bersama-Nya disisiku.

*

11 Desember 2016


COMMENTS
- no comment yet -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260