Please wait...
Penulis 188 - Artikel 20 - Buku 308




Dr Spock, Percakapan Imajiner
Category: Kaca Mata CEO | Author: Arys Hilman Nugraha | | 16 Nov 2016, 09:05:21



Saya berjumpa dengannya di New Haven, Connecticut, AS; kota tempat ia lahir. Kepalanya menengadah saat saya tiba. Wajahnya menyambut ramah. Dari balik lensa, matanya memancarkan kehangatan.
Ia, Dr Benjamin Spock, sedang duduk. Dan ia tetap saja duduk. Ada bayi di pangkuannya.
``Ah, seperti biasa,`` saya berseru.
``Ya, lihatlah, bayi yang lucu bukan,`` katanya.
Secarik kain menutup bahu kanan jasnya. Saya tahu, sesekali ia harus menyenderkan sang bayi di pundak dalam posisi tegak, agar tak tersedak. Dr Spock sedang memberinya susu.
Bayi itu ``bukan siapa-siapa`` sebenarnya. Bukan cucu, apalagi anaknya. Ia ``hanya`` salah satu pasien. Tapi, seperti pula pasien-pasien yang lain, sang bayi mendapatkan lebih dari sekadar obat kimia darinya.
Spock adalah satu-satunya dokter anak pada eranya yang memiliki keahlian psikoanalisis. Ia biasa berbincang panjang dengan orangtua pasien dan mendalami aspek psikologi dan emosi anak-anak. Ia tidak saja menyembuhkan sang anak, tapi juga menyehatkan hubungan orangtua dengan sang anak.

Pada akhirnya, ia memang bukan sekadar dokter. Ia adalah tokoh besar dunia dalam hal perkembangan anak. Bukunya, Baby and Child Care, diterjemahkan ke dalam 39 bahasa dan tercetak sebanyak 50 juta kopi--jumlah yang hanya tersaingi oleh Bible. ``Ada nilai dasar yang universal: Cinta keluarga, kejujuran, sikap hormat terhadap orang lain, dan idealisme yang menginspirasi kita mencapai kemuliaan,`` katanya.

Saya mengerti. Bagi Dr Spock, sikap hormat kepada orang lain--seperti hormat yang kita harapkan dari orang lain--adalah nilai dasar dalam semua sistem nilai spiritual atau agama. Dan, anak-anak haruslah sejak dini diperkenalkan dengan nilai tersebut.

Benjamin McLane Spock adalah anak tertua dari enam bersaudara. Ayahnya seorang pengacara terkemuka. Sedangkan sang ibu adalah perempuan yang mendedikasikan diri untuk anak-anaknya. Dari mereka, Benjamin kecil menerima nilai-nilai dasar yang kemudian ia tularkan pada para orangtua di seluruh dunia.

Ia biasa mengasuh adik-adiknya. Ia menyuapi mereka. Ia mengganti popok mereka. Ia melakukan hal itu sebagai perbuatan yang menyenangkan. ``Nilai terpenting adalah membuat anak-anak tertarik untuk menolong orang lain, tentu pertama di rumah, selanjutnya di luar,`` katanya. Bantuan anak-anak itu mungkin sangat sederhana, katakanlah sekadar mengatur meja, tapi itu sangat berarti justru bagi mereka.

``Orangtua mungkin akan berkata, `Biarlah, saya bisa bereskan dengan lebih cepat`, tapi itu bukan intinya. Anak-anak justru harus didorong untuk memberikan bantuan, untuk menghomati dan mencintai yang lainnya,`` katanya.

``Sebuah nilai spiritual!`` saya nyeletuk.
``Ya, tapi kita kurang memberi perhatian pada masalah semacam ini.``
Banyak orangtua, katanya, yang membimbing anak-anak untuk lebih dulu memikirkan diri sendiri. Mereka berkata, ``Kamu di dunia untuk menjadi yang terdepan, Nak.`` Itu keliru. Anak-anak justru harus dibimbing secara sederhana, misalnya untuk membantu orangtua di rumah, memberinya bayangan akan menjadi penolong dunia.
``Begitu besar peran orangtua?``
``Ya, jika kita tak memberi mereka nilai spiritual untuk menjalani hidup, maka mereka akan mudah terpengaruh materialisme yang bertaburan dalam acara televisi, video musik, dan iklan-iklan,`` kata Dr Spock seraya mengusap jenggotnya yang putih.
``Saya juga khawatir soal televisi. Sampai-sampai, televisi rusak sudah dua bulan pun tak saya perbaiki, biar aman buat anak-anak.``
``Memang, banyak anak-anak yang mendapat standar perilaku justru dari televisi. Ini media yang sangat perkasa. Hanya orangtua yang teguh memegang nilai yang dapat melawan nilai-nilai amoral atau imoral yang kerap hadir di televisi.``
Saya merenung. Apakah saya termasuk orangtua yang demikian? Menangkap bayangan diri di jidat Dr Spock yang lebar, saya merasa cemas tidak termasuk orangtua yang teguh. Padahal, ancaman tidak sekadar dari televisi, tapi juga media cetak dan bermacam media luar ruang.
Apalagi, Dr Spock mengingatkan bahwa penolakan terhadap kekerasan dan seks di televisi mendapat tentangan dari para aktivis hak asasi. Mereka justru lebih mencemaskan masalah sensor, seakan itulah masalah terbesar di dunia. ``Untuk mengurangi kekerasan dalam masyarakat, kita harus mengurangi kekerasan di rumah dan televisi. Orangtua harus mencegah anak-anak menonton adegan seks dan kekerasan, tak boleh ada toleransi.``
``Bukankah mereka berhak mendapatkan pendidikan tentang seks?``
``Saya pikir gerakan pendidikan seks justru memberi andil terhadap persoalan ini. Tanpa kehadiran aspek spiritual dan emosional tentang seks, itu tak lebih dari pelajaran anatomi. Kalau anak-anak hanya mempelajari aspek fisik dari seks, maka mereka tak punya alasan untuk tidak bereksperimen.``

Catatan: Percakapan imajiner ini ditulis berdasarkan wawancara Parents` Press dengan Dr Benjamin Spock pada 1994


COMMENTS
- no comment yet -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260