Please wait...
Penulis 177 - Artikel 20 - Buku 291




Jenis-jenis Gombal
Tere Liye, Penulis "Pulang"
Category: Kata Penulis | Author: Tere Liye | | 08 Jun 2016, 09:42:01



Gombal kelas internasional.
Bilang ke pacar, ?Aku cinta kamu karena Allah, dek." Pacar? Sambil pegangan tangan? Mesra-mesraan. Aduh, nggak banget deh. Jangan bawa-bawa Tuhan untuk urusan pacaran yang jelas melanggar banyak peraturan Tuhan. Malaikat saja mungkin gerah berada di sekitar, mungkin pergi ratusan kilometer, menjauh.

Gombal kelas nasional.
Orang pacaran yang ngaku-ngaku: "Cinta kita suci, ini anugerah Tuhan yang tidak kita minta." Sambil mojok berdua. Asyik berduaan, asyik pegangan tangan. Suci? Tapi dikotori dengan pacaran, yang melanggar begitu banyak peraturan Tuhan. Ya ampun sejak kapan pacaran masuk dalam definisi suci.

Gombal kelas provinsi.
"Nggak juga bang tere, pacar aku serius kok". Wushhh, hening deh. Serius? Sejak kapan pacaran masuk definisi serius? Kalau serius ya menikah. Satu-satunya keseriusan dalam pacaran adalah: serius pacaran. Asyik masyuk, menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Gombal kelas kabupaten.
"Kami pacarannya islami kok, tahu batas-batasnya." Ya ampun, justeru dengan pacaran, batas terbesarnya sudah dilanggar. Kalau memang ada pacaran islami, maka besok lusa, acara bergosip di televisi akan ngaku gosip islami. Yang pembawa acara gosipnya seperti cacing kepanasan akan membuka acara dengan: "Hei hei pemirsa, assalammualaikum, hallllo apa kabar sih? Kalian tahu nggak penonton, masya Allah, subhanallah, kucing sebelah rumah selingkuh. Astagfirullah. Mari kita berdoa semoga selingkuhannya diberikan jalan tobat, Allah SWT berfirman, Rasul Allah bersabda, dst, dstnya."

Gombal kelas kecamatan.
"Beneran loh, Bang, pacaran itu menambah semangat belajar." Oh iya? Lantas hitung sendiri nanti ya, berapa banyak waktu sia-sia yang dihabiskan, berapa banyak galau, tidak menentu. Dan silahkan cek sendiri, apakah kalian jadi peserta olimpiade Matematika dunia dan dapat medali emas gara-gara pacaran. Kalau mau jujur-jujuran, mau mendengarkan, mau obyektif, besok lusa, saat kalian sudah 40, 50 atau 60 tahun, pikirkan, apakah memang ada manfaatnya pacaran jaman kalian masih remaja dulu?

Gombal kelas RT/RW.
"Aku rela berkorban demi dia". Bela-belain beli kado, hadiah, buat siapa? Pacar? Tapi beliin orang tua, adik, kakak, kado, hadiah malah amit-amit. Bela-belain ngantar siapa tadi? Pacar? Rela hujan-hujanan, rela ngutang, rela semua. Tapi ngantarin orang tua, adik, kakak, malah ogah.

Jangan sampai kalian mengorbankan masa remaja yang spesial tersebut, karena kita akan hidup puluhan tahun dengan sisanya. Banyak2lah belajar, fokus sekolah, menambah ilmu pengetahuan, habiskan waktu bersama adik, kakak, keluarga, bersama teman-teman terbaik yang saling mengingatkan. Akan datang dengan sendirinya kok masa2 mengharu biru itu, tidak usah buru-buru, apalagi hanya pengin tahu, coba-coba Yakinlah, besok lusa, dengan pemahaman yang baik, tahu batasnya, tahu cara menyikapinya cerita cinta kita akan happy ending


COMMENTS
- no comment yet -







Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260