Please wait...
Penulis 179 - Artikel 20 - Buku 293




Melangkah dengan Bismillah: Kisah-kisah Tentang Kalimat Thayyibah
Resensi oleh Widya Ross
Posted by Administrator on 31 Mar 2016, 14:48:37



Penulis   : Wikan Satriati
Ilustrator: EorG
Penerbit  : Alif Republika Penerbit

Waktu paket buku ini tiba di tempatku, kesan pertama setelah melihat covernya adalah "Wow". Itu wow yang pertama. Wow yang kedua adalah ketika melirik ilustrator di sana. Eorg, yang ilustrasinya udah terkenal. Wow ketiga adalah ketika baca sinopsis di back cover-nya.

Ini dia sinopsisnya.

"Tahukah kamu, saat kamu menjawab ucapan assalamu'alaikum dengan wa'alaikumsalam, seribu malaikat akan mengucapkan salam pula padamu."
"Benarkah?"
"Ya. Apakah kau tidak merasakannya?"
Si Bocah menggeleng.
"Suatu saat kau akan bisa merasakannya, Nak. Ketika kau menjadi lebih peka."

Ketika baca isinya, maka rasanya saya ingin berteriak "wooow" keras-keras. Biar saya katakan di awal, buku ini bagus!
Kisah pertama adalah cerita tentang "Melangkah dengan Bismillah", yakni kisah Nabi Muhammad yang dicaci maki oleh pengemis Yahudi. Dan, Nabi Muhammad menyuapi bapak pengemis dengan lembut.

Pasti udah familiar dengan kisah ini toh? 

Yang asyik ketika saya baca ulang kisah tersebut adalah cara bercerita mbak Wikan. Entah kenapa saya jadi hanyut merasakan kasih sayang Rosulullah pada pengemis tersebut. Saya jadi trenyuh sekaligus tertohok-tohok ketika Rosulullah mendengarkan pengemis mengoceh. 

Lihat ya nukilannya.
Cara mendengarkan seperti yang dilakukan tuan yang baik itu, terasa bagai air yang memadamkan api. Saat seseorang ingin menyampaikan sesuatu dan orang lain tidak mendengarkan, itu seperti ada bara api yang bergejolak di perutnya, membakar dadanya, dan memanaskan kepalanya. Tetapi jika orang lain mendengarkan, bara api itu akan padam, dan yang ada kesejukan semata.

Si Tuan yang dimaksud adalah Rosulullah. Aduh jadi ketohok karena saya-nya kesindir dong, masih belum terlalu kuat mendengarkan orang yang hobinya mengeluh. 
Membaca buku ini, walaupun buku anak ya, seperti belajar, seperti diajak merenung, terus ujung-ujungnya jadi malu sendiri. Kalimat-kalimat yang ditulis Mbak Wikan begitu sederhana, indah, tapi ngena.

Di antara ketujuh cerita yang ada, nyaris semuanya saya sukai. Sukanya pakek banget. Karena pasca membaca buku ini, saya jadi apa ya, semacam dapat pencerahan gitu-lah.

Ada kisah berjudul "Lailahaillallah Allah, Engkau Tuhanku." Saya suka bagian ketika ada Pak Tua yang menyusuri jalan dari desa ke desa, menjajakan gulungan anyaman bambu. Saya nukil ya, kalimatnya.

Tapi, tidak setiap hari orang memerlukan anyaman bambu bukan? Dan tidak seorang pun dapat menduga bahwa persis saat seseorang memerlukan anyaman bambu, Pak Tua penjual anyaman bambu akan kebetulan lewat di depannya, dan terjuallah anyaman bambu Pak Tua.

Alangkah kecilnya kemungkinan anyaman bambu itu terjual. Tetapi lihatlah, alangkah besarnya kepercayaan Pak tua pada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Oh, My God! Saya serasa kena tabok! Malu banget terhadap tokoh Pak Tua dalam cerita. Saya belum seyakin itu. Saya belum setawakkal itu.
Oya, buku ini less picture alias minim gambar. Jadi kalo buat anak kelas satu dua, kurang cocok.

Kesimpulannya, sama dengan yang saya sebut di atas. Buku ini bagus! Saya akan menyimpannya :).

Demikian resensi kilat tentang buku "Melangkah dengan Bismillah". Ayo ayo ke toko buku. Atau bisa aja meluncur ke website Republika, atau mungkin bisa hubungi Mbak Wikan, search Facebooknya, bagi siapapun yang kepingin baca buku tersebut.

*Resensi dimuat di laman http://widyaross.blogspot.co.id/2016/03/buku-anak-melangkah-dengan-bismillah.html

 









Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260