Please wait...
Penulis 177 - Artikel 20 - Buku 291

Cris Kuntadi




Cris Kuntadi
Kita tidak bisa memilih sebagai siapa kita akan dilahirkan, tetapi kita bisa ?memilih? sebagai siapa kita ingin dikenal dan dikenang.

Terlahir di sebuah desa di daerah Banyumas pada 24 Juni 1969, penulis kemudian diberi nama Cris Kuntadi. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Bapak Drs. Tulus Pribadi As (Alm), dan Ibu Sukiyati. Sebagai buah atas akar didikan dan semangat orang tua, berpadu tekad, usaha dan doa, Cris kini berhasil menyandang berbagai gelar yang menjadikan namanya tak sesederhana semulanya. Tentu, perjuangan mencapainya juga tak sesederhana mengungkapkannya. Dr. H. Cris Kuntadi, SE, MM, CA, CPA, QIA, FCMA, CGMA, CIPSAS, Ak., kini tak hanya dikenal sebagai seorang birokrat dan pemeriksa/auditor, melainkan juga seorang pendidik di berbagai perguruan tinggi.
Melihat berderet gelar yang disandang, tentu penulis tak lepas dari berjenjang pendidikan formal yang dilaluinya. Cris---begitu penulis akrab disapa--- memulai pendidikan formalnya pada tahun 1976 di SD Negeri II Desa Windunegara, Wangon, Banyumas dan menyelesaikannya pada tahun 1982. Kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Ajibarang, Banyumas hingga tahun 1985. Pada tahun 1988, Cris berhasil menuntaskan masa putih abu-abunya di SMA Negeri 1 Purwokerto. Pada saat itu pulalah, ia berhasil membuat ibunya menangis bahagia tersebab kabar diterimanya ia di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Di kampus plat merah itu pula, penulis dapat menemukan titik balik, baik tentang kehidupan maupun keimanan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa STAN lah tempat penulis menemukan hidupnya. Hingga akhirnya ia berhasil bertahan dan keluar sebagai lulusan STAN pada tahun 1991.
Pengalaman ?dipaksa? tekun belajar selama kuliah di STAN menjadi bekal tambahan bagi penulis untuk dengan percaya diri melanjutkan pendidikan dan kariernya. Penulis yang pada April 1993 menjadi PNS dengan golongan II/c kemudian mendapat gelar sarjana dan akuntan dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1996. Dengan gelar SE dan Ak-nya, Cris lalu mendapat kenaikan golongan menjadi III/a pada April 1997.
Tak sampai di situ, pada November 1998 penulis kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di dua Universitas sekaligus, yaitu Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, konsentrasi Auditing (international clas) dan Erasmus Universiteit Rotterdam, Nederland, konsentrasi International Business. Cris menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya pada bulan Mei tahun 2000.
Pada bulan April 2001 penulis merupakan PNS dengan Golongan III/b, yang ternyata hanya sembilan bulan dilaluinya. Pada Januari 2002, ia kembali mendapat kenaikan golongan menjadi III/c. Hal ini karena pada saat itu ia telah menduduki jabatan Eselon IV, yaitu sebagai Kepala Seksi Lampung Perwakilan BPK RI di Palembang. Selain itu, penulis juga mulai mengembangkan sayap kebermanfaatannya dengan menjadi pengajar. Dimulai dengan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta pada tahun 2001 dan 2002. Pada tahun 2003, Cris kemudian juga menjadi pendidik di Universitas Sriwijaya Palembang. Selain itu, ia juga mendapat Certified Public Accountant (CPA) dari Ikatan Akuntan Indonesia (sekarang oleh Institut Akuntan Publik Indonesia) pada Januari 2004.
Empat tahun berkiprah di Palembang, penulis kemudian berpindah tugas ke Kalimantan Barat. Di sana ia diamanahkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Subauditorat Kalbar 1 Perwakilan BPK Provinsi Kalimantan Barat karena masih golongan III/c. Pada April 2006, dengan Golongan III/d Cris kemudian menjabat sebagai Kepala Subauditorat Kalbar 1 Perwakilan BPK Provinsi Kalimantan Barat. Tahun selanjutnya, ia menduduki jabatan sebagai Kepala Subauditorat II.B.2 (pemeriksa Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Perekonomian) BPK RI. Pada tahun 2008 ini pula Cris juga menjadi pengajar di STIA LAN Jakarta, Universitas Andalas Padang (s.d 2015), STAN Jakarta (2005-2015) dan Universitas Sriwijaya Palembang (s.d 2010).
Dengan masih menjabat sebagai Kepala Subauditorat II.B.2 BPK RI, pada tahun 2009 Cris juga menuntaskan jenjang pendidikan formalnya. Ia lulus dengan Predikat Cumlaude dari Program Doktor Ilmu Administrasi (Minat Administrasi Bisnis) Universitas Brawijaya Malang yang dimulainya dari tahun 2007. Kemudian, kepak sayapnya semakin diperluas. Pada tahun 2009 juga ia mulai menjadi pengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran Bandung (s.d 2013).
Dengan berderet pengalaman dan pemahaman, Cris terus melejitkan kariernya. Pada tahun 2010, ia diamanahkan sebagai Plt. Kepala Pusdiklat BPK RI. Saat itu, ia masih PNS dengan Golongan IV/a yang diperolehnya dari Oktober 2007. Hingga pada 1 September 2010, ia menduduki jabatan sebagai Kepala Pusdiklat BPK RI. Pada Oktober 2011, Cris kembali mendapat kenaikan golongan menjadi IV/b.
?Memimpin adalah kesempatan untuk memperluas kebermanfaatan.? Agaknya inilah yang ingin diajarkan penulis melalui berbagai sepak terjangnya. Pada saat menjadi Kepala Pusdiklat BPK RI ini, penulis berhasil membangun sebuah sistem untuk mencegah terjadinya kecurangan(fraud) yang kemudian dikenal dengan Sistem Kendali Kecurangan (SIKENCUR). Sistem yang dibangunnya, kemudian diangkat menjadi sebuah karya berupa buku yang kini telah mencapai cetakan ke-5. Selain itu, di masa yang sama ia juga merupakan Anggota Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2010-2014). Penulis dipercayakan pula menjadi Ketua Komite Etika (2012-2016) dan Anggota Dewan Sertifikasi Akuntan Profesional periode 2013-2016 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Pada 14 Juli 2014, Cris kemudian beralih menjadi Kepala Perwakilan BPK Provinsi Jawa Tengah. Ia juga kembali dipercaya menjadi Anggota Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk periode 2014-2018. Amanah lainnya adalah sebagai Anggota DPP Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Kedinasan Keuangan (Ikanas) untuk periode 2014-2016. Dan tentunya, saat itu juga masih menyibukkan diri dengan menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi serta amanah-amanah lain yang masih diembannya. Karena ia sadar, jika tidak menyibukkan diri dengan kebermanfaatan, maka kita akan disibukkan dengan kesia-siaan.
Perjuangan tak boleh berakhir hingga saatnya untuk ?pulang?. Ayah dari lima putra yang juga hobi bersepeda ini terus mengayunkan langkah demi menjejak karya dan manfaat. Pada 19 Januari 2015, ia kemudian menduduki jabatan sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan RI. Di tahun yang sama, ia juga merupakan Anggota DPP sekaligus Ketua Komite Kode Etik Asosiasi Auditor Internal Pemerintah Indonesia (AAIPI) untuk periode 2015-2018. Head of delegation RI untuk International Maritime Organization di London ini juga merupakan Wakil Ketua Panitia Seleksi Kemenhub (s.d sekarang). Karena jabatan Eselon I yang didudukinya, Anggota Dewan Penguji Penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu ini kembali mendapat kenaikan golongan menjadi IV/d pada April 2016 setelah sebelumnya Golongan IV/c sejak April 2013.
Pemahaman yang melekat kuat akan integritas yang didapat ketika kuliah di STAN menjadi bekal baginya untuk membangun kepercayaan. Dengan bangunan kepercayaan itulah penulis dapat terus berkiprah dalam pengabdiannya pada negeri. Sejak 1 Maret 2016, Delegation RI untuk International Civil Aviation Organization (ICAO) ini juga merupakan Komisaris dan Ketua Komite Audit PT Pelindo II (Persero). Amanah sebagai Anggota Dewan Penguji QIA Yayasan Pendidikan Internal Audit juga ditumpangkan di pundaknya, hingga sekarang. Di Ikanas sendiri, ia kembali diamanahkan menjadi Anggota DPP untuk periode 2016-2018. Sedangkan pada Ikatan Alumni SMA nya, ia merupakan Ketua Bidang Pendanaan untuk periode sampai tahun 2019.
Bagi Cris, diamanahkan untuk ?banyak berbuat? adalah kesempatan emas untuk berkarya dan memperluas kompetensi. Pada tahun 2016 juga, Pemimpin Redaksi Majalah Akuntan Indonesia ini kembali terbang ke London sebagai alternate HOD untuk International Maritime Organization. Hingga saat ini, ia juga merupakan Anggota Pansel Kemenko Maritim dan Basarnas. Sejak tahun 2015, ia juga merupakan Anggota Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Catatan gemilang lainnya adalah sebagai inisiator penyusunan dan penyerahan ikhtisar hasil audit Triwulan (IHAT) ke BPK sebagai pemenuhan UU 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Berbekal iman, ilmu, dan tekad untuk mengabdi, dengan percaya diri ia terus mengepakkan sayapnya. Dengan kegigihan usaha, ia berhasil meraih berbagai prestasi lainnya. Di antaranya adalah Capaian sebagai Irjen Kemenhub: ISO 9001:2008, IACM Level 3, Aplikasi Sistem Manajemen Pengaduan, TLHP BPK 100 persen, serta formasi auditor model piramida. Cris juga berhasil dalam pengembalian kerugian negara hasil pemeriksaan BPK dan Itjen Rp 1,12 triliun (2015) dan Rp 175 miliar (2016). Pada tahun 2016,reviue harga perkiraan sendiri (HPS) yang dilakukannya memangkas potensi kemahalan hingga Rp 1,08 triliun. Di awal tahun 2017, ia kembali menerbitkan buku Sikencur (Sistem Kendali Kecurangan) Menata Birokrasi Bebas Korupsi, cetakan ke-5, mengimplementasikan di Pusdiklat BPK dan Kemenhub.
Selain menuntaskan jenjang pendidikan formal, Cris juga terus merebut gelar profesinya. Setelah CPA yang diraih pada tahun 2004, berbagai sertifikasi profesional terus ?diburu? penulis. Pada November 2010, ia mendapat Certified International Change Management dari Prosci Global Affiliate Network. Chartered Accountant (CA) dari Ikatan Akuntan Indonesia kemudian diperolehnya pada Desember 2012. Dua tahun kemudian, ia menyabet Qualified Internal Auditor (QIA) dari Yayasan Pendidikan Internal Auditor (YPIA). Tahun selanjutnya, Fellow Chartered Management Accountant (FCMA) dan Certified Global Management Accountant (CGMA) dari Chartered Institute of Management Accountant (CIMA) berhasil ia peroleh. Dan pada tahun 2016, ia meraih Certified International Public Sector Accounting Standards (CIPSAS) dari Association of Certified Chartered Accountant (ACCA).
Kini, di samping mengemban berbagai amanah, Cris Kuntadi juga dikenal sebagai pembicara pada seminar atau kuliah umum. Dengan berbagai pengalaman dan perjuangannya, ia juga kerap menjadi motivator pada berbagai kegiatan. Cris juga tak lelah untuk terus berkontribusi mencetak pemimpin-pemimpin hebat masa depan dengan tetap menjadi pengajar, di antaranya di Universitas Indonesia, STIA LAN Jakarta, dan Perbanas Institute. Bermula tahun 2016, Cris juga seorang dosen Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Kemenhub. Karena ia yakin, ?Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.?
Meski dengan berbagai kesibukannya, di rumah, Cris adalah suami dari seorang wanita bersahaja, Siti Munfaridah, S.Sos. Keduanya telah dikarunia lima orang putra, yaitu Alfatih, Ghozy, Irfan, Zulfikar, dan Ahda. Bagaimanapun, mereka adalah sumber dukungan, doa dan semangat baginya untuk terus berbuat baik. Dan tentunya, mereka pulalah yang menyertai setiap perjuangan dan rintangannya dalam mengemban amanah dan tampuk kepemimpinan yang ada. Baginya, memimpin berarti memberi keteladanan, dan rumah adalah tempat terbaik menunjukkan dan mengajarkan keteladanan.


PRODUCT BY CRIS KUNTADI
-20%






Follow our Social Media




Republika Penerbit - Jl. Kavling Polri Blok I No. 65 Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12260